pase-pase pengajaran baca alqur'an

Kitab Lawaqihul Anwaril Qudsiyah Fil ‘Uhudil Muhamadiyah

1.      Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita mengharapkan pemenuhan karunia tuhan kita dan agar kita mentuluskan niat karena Allah SWT. dalam ilmu dan amal kita, serta seluruh kondisi kita, dan membersihkan seluruh cacat sampai-sampai dari kesaksian ikhlas dan munculnya rasa berhak kita akan pahala atas hal itu. Bila terbetik pada kita menuntut pahala maka kita memandangnya termasuk bab karunia dan pemberian dan orang yang hendak mengamalkan perjanjian ini perlu menempuh jalur lurus pada tangan Guru yang jujur serta mendalam dalam berbagai ilmu syariat dimana ia mampu menjelaskan madzhab yang empat dan yang lainnya, mengenal berbagai dalil dan tempat-tempat pengambilan berbagai pendapatnya, dan berdiri diatas ummul (induk) al Kitab yang darinyalah bercabang setiap pendapat. Maka orang yang menghedaki ikhlas dalam berbagai amalnya ia sibuk mengingat Allah azza wa jalla hingga tirai kemanusiaannya menipis dan masuk pada hadapan manusia yang menyembah Allah seolah-olah ia melihatNya dan disanalah ia menyaksikan setiap amalnya sebagai makhluk Allah azza wa jalla yang tiada jalan masuk bagi hamba ke dalamnya kecuali keberadaannya sebagai tempat untuk munculnya amal itu tiada yang lainnya. Karena aneka amal itu sifat dan sifat tak muncul kecuali dalam tubuh. Disanalah pamrih, sombong, ujub dan seluruh penyakit lenyap dari si hamba. Karena aneka penyakit ini datang pada si hamba yang memandang (klaim) keberadaannya sebagai pelaku terhadap amal itu serta lalainya dari pantauannNya. Jelas bahwa pamrih, sombong, ujub selamanya tidak muncul dari hamba sebab amal orang lain. Maka diketahui bahwa barang siapa yang tidak sampai pada lingkungan ihsan dan menyaksikan seluruh amalnya sebagai makhluk Allah baik secara tersingkap maupun yakin bukan dugaan dan perkiraan maka ia dihadapkan pada pamrih sekalipun hafal dua ribu kitab.

Hai saudaraku carilah Guru yang jujur bila anda hendak meningkat naik pada kedudukan (maqam) ikhlas dan jangan jemu karena lama mencarinya karena ia lebih agung dari yakut merah. Diantara syarat-syaratnya (guru yang jujur) yang paling minimal adalah wara’ dari harta-harta penguasa dan tak tercatat di baitul mal, tak menerima keringanan dan hadiah untuk membukakan (kasyf), (ia) bukan Guru arab dan (juga) Guru satu negeri tapi ia diberi karunia oleh Allah dari arah yang tak diperkirakan. Yang halal menjadi jernih baginya yang terhindar diantara barang haram yang seperti kotoran dan syubhat yang seperti darah. Bila tidak, maka (ingatlah) semua Guru tariqah sepakat bahwa yang memakan yang haram dan yang syubhat tak sah baginya keikhlasan dalam satu amalpun karena ia tidak ikhlas (bebas) kecuali bila ia telah masuk kehadapan ihsan dan tidak masuk kehadapan ihsan kecuali yang bersih dari semua najis lahir dan batin. Karena kumpulan ahli hadlrah ini adalah para nabi, malaikat, dan wali. Sedangkan diantara syarat-syarat mereka adalah terpelihara dan terjaga dari memakan yang haram dan yang syubhat. Maka setiap Guru yang tidak sanggup memelihara dirinya, ia tidak mampu menyampaikan yang lainnya ke hadrah itu, ya Allah, kecuali bila Allah memberi karunia pada sebagian murid dengan ditarik tanpa menempuh yang dijanjikan maka tiada penghalang baginya. Sudah diketahui bahwasannya wajib bagi setiap pencari ilmu yang tidak sampai pada ikhlas untuk mengambil Guru untuk dirinya yang mengajarinya menempuh sampai pada derajat ikhlas. Ia termasuk bab: “Perkara yang menyempurnakan wajib itu (hukumnya) wajib”. Allah SWT. berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” Yaitu mendirikan salat jauh dari penyimpangan seperti lupa mengenai Allah di dalamnya, menunaikan zakat tanpa alasan pahala dan takut siksa tapi demi menjalankan perintah Allah SWT. seperti wakil dalam harta yang medapat titipan harta.

Saya mendengar sayid Ali al Khawash rhm. berkata: “Diantara yang paling minimalnya derajat ikhlas adalah ia dalam semua amalnya seperti (ternak) tunggangan yang diberi beban (pikulan). Ia dalam kondisi payah karena berat pikulannya kepalanya tertunduk ia tidak tahu berhaga dan jeleknya yang ia pikul, ia tidak tahu untuk siapa, dan sampai kemana ia memikulnya? Dan sebab itu, ia tidak melihat keunggulan diatas melata lainnya dan tidak meminta upah atas pikulannya.”

Saya mendengar beliau berkata: “Bila hamba ria dengan ilmu dan amalnya maka amalnya terhapus berdasarkan teks kitab dan sunah dan bila amalnya terhapus maka seolah-olah ia tidak melakukan apapun lalu bagaimana ia (masih bisa) memperlihatkan dirinya dengan hal itu pada orang-orang padahal setelah terhapus (amalnya) masih ada ancaman baginya dengan siksa yang pedih. Maka sadarlah hai pencari ilmu pada hal yang semacam itu.”

Saya katakan: “Begitu juga wajib bagi orang fakir yang terputus di gua atau langgar untuk melenyapkan dirinya dari klaimnya akan keikhlasan dan menghabiskan waktu untuk Allah SWT. bila ia melihat dirinya merasa kesepian karena hilangnya cinta orang padanya dan lupanya mereka pada dirinya maka ia dusta dalam pengakuannya menghabiskan waktu untuk Allah SWT. karena yang jujur akan bergembira bila orang-orang melupakannya dan melalaikannya karena mereka tidak menyebabkannya kehilangan hadiah dan ucapan terima kasih. Dan ia bergembira bila semua rekan-rekannya berpaling darinya dan berkumpul pada guru lain yang membimbing sebagaimana uraian atas hal itu yang kami uraikan dalam buku “Janji-janji para Guru”. Allahlah yang lebih tahu.

Diantara (hadis) yang diriwayatkan para imam mengenai ikhlas dengan hadis marfu’ adalah sabda beliau saw.: “Barang siapa meninggalkan dunia dalam keadaan ikhlas karena Allah satu-satunya tiada sekutu bagi-Nya, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Maka ia meninggalkannya dalam kondisi Allah meridlainya.” H.R Ibn Majah dan al Hakim. Ia mengatakan hadis sahih berdasarkan syarat asy Syaikhani.

Al Baihaqi meriwayatkan dengan hadis mursal: “Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah apa itu iman?” beliau menjawab: “Ikhlas.” Dia bertanya: “Lalu apa itu yakin?” beliau: “Membenarkan.”

Al Hakim meriwayatkan – dan ia mengatakan sahih sanadnya –: “Bahwa Mua’dz bin Jabal berkata, “Wahai Rasulullah berilah aku wasiat.” Beliau: “Ikhlaskan niatmu maka amal yang sedikit cukup bagimu.”

Al Baihaqi meriwayatkan dengan hadis marfu: “Berbahagialah bagi mereka yang tulus. Mereka adalah pelitanya hidayah yang dari merekalah lepas semua fitnah mereka yang zalim”. Dalam semua salinan “al ‘Udzama” dan disini pengkoreksiannya sempurna dengan kata “Zulama” seperti yang ada dalam jami shagir dalam hadis nomor 5289, dimana Guru Mahmud ar Rankusiy dalam pengajarannya disela-sela mengajarkan kitab di Darul Hadis di Damasqus menuturkan: “yang terhafal zulama.”

Al Baihaqi dan al Bazar meriwayatkan hadis marfu’: “Sesungguhnya Allah SWT. berfirman: “Aku adalah teman terbaikmu, maka barang siapa beramal satu amal yang didalamnya aku disekutukan dengan selainku maka ia untuk sekutuku dan aku berlepas. Hai manusia tuluskan berbagai amalmu karena Allah. Karena Allah tidak akan menerima amal kecuali yang tulus. Jangan katakan ini buat Allah dan buatmu. Karena ia buatmu dan tak sedikitpun darinya untuk Allah.” Dalam satu riwayat menurut Abu Daud dan yang lainnya dengan sanad yang baik sebagai hadis marfu’: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang tulus dan ia mencari (keridlan) zatNya dengannya (amal itu).”

Thabrani meriwayatkan hadis marfu’: “Dunia serta yang ada di dalamnya terkutuk kecuali yang dengannya dimaksud zat Allah.”

Al Baihaqi meriwayatkan hadis marfu’ dari Ubadah bin Shamit ia mengatakan: “Pada hari kiamat bumi didalatangkan. Lalu dikatakan, “Pisahkan darinya yang untuk Allah azza wa jalla. Lalu mereka dipisahkan dan Dia melempar yang lainnya ke dalam neraka.”

Al hafidz al Mundziri mengatakan: “Terkadang dikatakan bahwa semacam ini tidak dikatakan baik dari arah logika maupun ijtihad. Jalannya adalah jalan marfu’.”

Al hafidz warazin al abdari meriwayatkan hadis marfu’ mursal: “barang siapa yang tulus karena Allah selama empat puluh hari maka berbagai mata air hikmah keluar dari sisinya pada lisannya.”

Al hafidz al mundziri mengatakan: “saya tidak mendapati hadis ini ada pada sanad yang sahih dan hasan, dan saya tidak mengingatnya dalam satupun dari usul yang dikumpulkan warazin.” Allahlah yang lebih tahu.

Ustadz al Muhadis Guru Mahmud ar Rankusi pada tengah-tengah membaca buku ini mengatakan bahwa perkataan al Mundziri tidak berarti bahwa selainnya tidak mendapati pada hal itu. berikut penjelasan itu dan bahwa hadi lemah diamalkan dalam berbagai amal tambahan (fadlailul a’mal):

Hadis 8361 dari al jami’us shagir: “barang siapa tulus karena Allah selama empat puluh hari muncul berbagai mata air hikmah dari hatinya pada lisannya.” Diriwayatkan oleh abu nu’aim dalam al hilyah dari Abu Ayub. Pentashihah as sayuthi: lemah.

Hadis 5271 dari kanzul amal: “Barang siapa tulus karena Allah selama empat puluh hari maka berbagai mata air hikmah muncul dari hatinya pada lisannya.” Diriwayatkan oleh abu nu’aim dalam al hilyah dari Abu Ayub.

ini riwayat yang lainnya: “barang siapa yang zuhud di dunia selama empat puluh hari dan pada (empat puluh hari itu) ia mengikhlaskan ibadah maka Allah alirkan berbagai mata air hikmah pada lisannya dari hatinya.” Diutarakan oleh ibn al juzi dalam al maudluat sebagaimana yang akan dikemukakan.

Ia mengatakan pada hadis 6193 dalam kanzul amal: “barang siapa yang zuhud di dunia selama empat puluh hari dan padanya iamengikhlaskan ibadah Allah alirkan pada lidahnya berbagai mata air hikmah dari hatinya.”(عد) dari abu musa. Dan ia diutaraka oleh ibn al juzi dalam al maudluat. Adz dzahabi mengatakan: “batil.”

Dalam kasyful khafa denga nomor 2361 mengatakan:

“Barang siapa yang tulus karena Allah selama empat puluh hari berbagai mata air hikmah muncl dari hatinya pada lisannya.” Diriwayatkan abu nu’aim dengan sanad yang lemah dari abu ayub.

Dalam al laali mengatakan: ia diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya dari makhul sebagai hadis mursal dengan lafadz: “Barang siapa tulus karena Allah selama empat puluh hari maka berbagai mata air hikmah memancar dari hatinya pada lisannya.” Dan ia meriwayatkan musnad dari hadis ibn athiyah dari sabit, dari anas dengan sanad di dalamnya ada yusuf yang lemah yang tidak dijadikan argumen.

Diriwayatkan al qudlai dari ibn abas sebagai hadis marfu ia mengatakan, “Seolah-olah dengan itu ia menghendaki yang menghadiri isya dan fajr.dalam bejamaah.” barang siapayang menghadirinya selama empat puluh hari ia mendapati takbir pertama maka Allah tuliskan baginya dua kebebasan, 1) kebebasan dari api neraka dan 2) kebabasan dari kemunafikan.”

Abu Syaikh meriwayatkan dalam tsawab dari anas dengan lafadz: “Barang siapa yang mendapati takbir pertama bersama imam selama empat puluh subuh maka Allah tuliskan baginya.” Al hadis.

Dalam al maudluat ibn al juzi meriwayatkan dari abu musa yang ia angkat: “Tak seorangpun hamba yang tulus karena Allah selama empat puluh hari – alhadids. Yang masyhur pada berbagai penuturan adalah subuh ganti dair hari. Itu diutarakan ash shagabi dengan lafadz: “Barang siapa yang tulus karena Allah SWT. selama empat puluh subuh, Allah sinari hatinya. Mengalirkan berbagai mata air hikmah dari haitnya pada lisannya.” Ia mengatakan: “itu maudlu’.”

Imam ahmad dan al Baihaqi meriwayatkan hadis marfu’: “Sungguh telah bahagia orang yang mengikhlaskan hatinya pada keimanan, menjadikan hatinya lurus, lisannya jujur, jiwanya tenang, akhlaknya lurus. Telinganya mendengar, dan matanya melihat.” Syaikhani dan yang lainnya meriwayatkan hadis marfu’: “Aneka amal itu dengan niat.” Dalam satu riwayat: “aneka amal itu tergantung nia-niatnya. Masing-masing mendapatkan yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya pada Allah dan rasulnya maka hijrahnya pada Allah dan rasulnya. Barang siapa hijrahnya pada dunia yang ia peroleh dan perempuan yang ia nikahi maka ia menuju pada yang ia tuju”.

Ibn majah meriwayatkan hadis marfu’ dengan sanad hasan: “manusia dibangkitkan berdasarkan niatnya.” Dalam satu riwayat: “manusia dikumpulkan di mahsyar berdasarkan niatanya.”

Muslim meriwayatkan hadis marfu’: “Sesungguhnya Allah SWT. tidak melihat tubuhmu dan tidak pula pada rupamu tapi Dia melihat pada hatimu.”

Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan hadis marfu’: “bila tiba akhir zaman umatku menjadi tiga kelompok: satu kelompok mereka menyembah Allah dengan tulus, satu kelompok menyembah Allah dengan pamrih, dan satu kelompok lagi mereka menyembah Allah agar mereka dapat memakan (harta) manusia lalu Allah azza wa jalla berfirman pada mereka yang ikhlas, “Bawalah mereka ke surga.” Dan Dia berfirman pada yang lainnya, “Biarkan mereka ke neraka.”

Al hafidz Abu Nu’aim meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa ia mengatakan: “barang siapa memandang dirinya termasuk mereka yang ikhlash maka ia termasuk yang ria, dan barang siapa yang memandang dirinya termasuk yang ria maka ia termasuk yang ikhlas.”

Hadis-hadis mengenai hal itu banyak sekali dan dalam bagian permulaan aneka hal yang dilarang aka ada sebagian yang pantas mengenai hadis yang mengenai ria dan tidaka adanya keihlasan dalam amal, dan ilmu maka silahkan telaah. Allahlah yang lebih tahu.

Saya katakan: “telah jelas bagi anda bahwa barang siapa yang tidak tulus dalam amal dan ilmunya maka ia termasuk mereka yang rugi amal-amalnya dan karena itulah aneka indikasi kondisi yang dibawakan hadis-hadis dalam berbagai alurnya dan semua yang ada menjadi bukti mengenai keutamaan ilmu dan amal hanyal pada hak mereka yang tulus didalamnya.

Awas anda keliru hai saudaraku karena pengkritik itu melihat. Dan pada saat ini banyak kaum yang tidak mengamalkan ilmunya dan bila mereka digugat orang mengani klaim mereka dalam ucapannya, “kami termasuk ahli ilmu”  mereka berargumen dengan hadis yang ada mengenai keutamaan mencari ilmu yang mutlaknya tanpa pensyaratan ikhlas. Maka pada mereka yang semacam ini dikatakan: “lalu dimana berbagai ayat, khabar, dan asar yang ada mengenai hak orang yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidka ikhlas? Maka awas anda keliru hai saudaraku dan anda mengklaim ikhlas mengenai ilmu dan amal anda tanpa penyelidikan karena itu tipuan.

Saya telah mendengar tuanku Ali al Khawash rhm. berkata mengenai arti hadis, “sesungguhnya Allah SWT. pasti memperkuat agama ini dengan orang-orang durhaka.”: “Orang ini belajar ilmu secara pamrih dan sum’ah lalu ia mengajari orang-orang masalah agamanya, memberi mereka pemahaman, memelindungi mereka, dan menolong agama. Tiba-tiba sisinya lemah kemudian setelah itu ia dimasukan oleh Allah ke nereka kerena tidak ada ketulusan.

2.      Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita mengikuti sunah nabi Muhamad dalam semua ucapan, aktivitas, dan keyakinan kita. Bila kita tidak mengenal satu dalilpun mengenai hal itu dari al kitab, sunah, ijma’ dan atau analogi (qiyas) maka kita berhenti dari melakukannya kemudian kita melihat bila hal itu telah dianggap baik oleh sebagian ulama kita minta izin pada Rasulullahs aw. Mengenainya kemudian kita melakukannya sebagai etika bersama orang alim itu dan itu semua takut ibtida’ (mengada-ada) dalam syariat yang suci lalu kita termasuk sejumlah imam yang menyesatkan. Dan saya telah bermusyawarah dengan beliau saw. mengenai ucapan sebagian mereka: “bahwasannya seyogyanya yang salat dalam sujud sahwi mengucapkan: سبحان من لا ينام ولايسهو, lalu beliau saw. berkata padaku ia baik. Kemudian jelas bahwa meminta izin pada Rasulullah saw. ada sesuai kedudukan yang didiami si hamba saat ia menghendaki pekerjaan itu. Bila ia termasuk ahli berkumpul dengan beliau saw. dalam keadaan sadar dan berhadapan seperti kedudukan ahli kasyf ia meminta izin seperti itu dan bila bukan maka ia meminta izin dengan hatinya dan nantikanlah anggapan baik mengerjakan atau meninggalkan yang Allah munculkan padanya dalam haitnya.

Saya mendengar tuanku Ali al Khawash rhm. berkata: “Yang dimaksud para pembesar dengan mendorong mereka pada pekerjaan berdasarkan kesesuaian kitab dan sunah tidak lain hanyalah duduk berhadapan dengan Allah dan Rasulullah saw. dalam hal tersebut bukan yang lain, karena mereka mengetahui bahwa yang maha benar swt. tidak akan duduk bersama mereka kecuali dalam amal yang Ia dan rasulNya saw. syariatkan. Sedangkan hal yang diada-adakan maka selamanya mereka tak akan disertai yang maha benar swt. dan rasulNya saw.. Mereka hanya menyertai orang berilmu atau orang bodoh yang mengada-adakannya. Maka diketahuilah bahwasannya tujuan ahli Allah SWT. dengan ibadahnya bukanlah mencari pahala dan bukan juga yang lainnya di akhirat karena mereka di dua negeri sebagai hamba, sedangkan hamba tidak memilki apapun bersama tuannya baik di dunia maupun di akhirat. Ia makan dan minum hanyalah dengan harta tuannya. Kebaikannya dan sepotong daginya dari karuniaNya. Sekiranya yang maha benar swt. memberinya sesuatu maka wajib baginya melepaskannya pada tuhannya dan tak boleh baginya bersaksi (mengklaim) miliknya sekejap pun. Karena pandangan inilah mereka dalam semua ibadah mereka bebas dari berbabagai cacat diri. Mereka ridla pada tuhannya dengan keridlaan yang mutlak dan Diapun mutlak meridlai mereka. “Itu karunia Allah yang ia berikan pada yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki kerunia yang agung.”

Ketahuilah hai saudaraku bahwa siapa yang dapat mewujudkan mengamalkan perjanjian ini ia mengjadi penghulu ahli sunah wal jama’ah pada masanya dan yang tidak menjulukinya dengan itu maka ia telah mendzaliminya dan sekarang saya tak mengetahui seorangpun di mesir yang mewujudkan pengamalan janji ini dan mengukuhkan dalam ucapan, aktivitas, dan keyakinannya dengan al Kitab, dan sunah melainkan sebagian individu ulama seperti Guru Abdurahman at Tajuri al Magribi, dan yang semacamnya r.a.

Saya katakan: “Allah SWT. telah memberi karunia padaku untuk mengamalkannya pada sebagian ucapan dan perbuatanku. Maka demi Allah orang yang telah menghubungkanku pada bid’ah yang bersebrangan dengan mayoritas ahlu sunah wal jamaah telah berdusta dan mengada-ada karena sesungguhnya inilah sejatinya yang berbuat bid’ah ya Allah kecuali ia menghendaki mengada-ada dalam hal yang dibolehkan dalam syariat dengan hukum yang umum maka ini tak lepas padanya dalam hal itu karena hal ini minim sekali ulama yang selamat darinya apatah lagi yang lainnya seperti yang tersaksi maka ketahuilah hal itu dan jagalah pendengaran serta pandanganmu mengenai hak ulama dan janganlah sekali-kali cenderung pada ungkapan orang yang hasud kecuali bila anda berkumpul dengan salah seorang dari mereka dan berunding bersamanya mengenai ungkapan bid’ah tersebut, bila anda melihatnya bersebrangan dan anda mengetahui bahwa ia adalah bid’ah serta ia bersikerasas mengamalkannya maka disanalah anda mengenyahkan orang-orang darinya karena sayang padanya dan pada kaum muslimin hingga tak seorangpun baik dari pembuat bid’ah atau pengikut terjerumus dalam dosa. Awas anda mengikuti salah seorang ulama sebab ucapan salah seorang yang hasud tanpa berkumpul bersamanya maka acapkali ia bersih dari yang dihubungkan padanya maka pada anda ada dosa penyamun atas mereka yang hendak mengikuti syariat karena ketika itu anda mengenyahkan dari mengikuti sunah nabi muhamad dan ini sering terjadi pada rekan-rekan pada zaman ini. Maka anda lihat setiap individu yang mengenyahkan orang-orang dari akhirat dan semuanya mengklaim bahwa ia ahli sunah wal jamah lalu masalah tersebut membawa tidaknya mengikuti pada salah satu dari keduanya, semoga Allah memelihara kita dan sahabat-sahabat kita dari hal semacam itu dengan karunia dan kemurahanNya. Amiin ..

Tuanku, Abu al Hasan asy Syadzili r.a. pernah mengatakan: “Ibadah seorang fakir tidak sempurna hingga ia menyaksikan syariat dalam setiap ibadah yang ia lakukan, yaitu ia mengamalkannya dihadapannya berdasarkan ketersingkapan dan menyaksikan bukan berdasarkan percaya dan keterhalangan”, kemudian ia mengatakan: “Bila seseorang bertanya, ‘Apa arguman anda atas itu?’ kita katakan padanya: “Kami melihat nabi saw. pada salah satu kesempatan lalu ku bertanya padanya wahai Rasulullah apa hakikat mengikuti baginda dalam amal sesuai dengan syariat baginda?” beliau menjwab: “Anda mengamalkan amal diserta kesaksianmu pada syariat saat anda mengamalkan dan setelah mengamalkan.”

Yang hendak mengamalkan janji ini perlu menguasai aneka argumen semua madzhab yang diamalkan dan dipelajari, dan berbagai pendapat ulamanya hinga hampir tak satu argumenpun yang tersembunyi padanya baik pendapat mereka mengenai yang diperintahkan, yang dilarang, ataupun yang dibolehkan. Kemudian setelah itu mesti punya seorang Guru salih yang menyerahkan dirinya beruasaha dengan berbagai latihan dan mujahadah di dalamnya hingga berbagai sifat tercela hilang darinya dan dihiasi berbagai sifat terpuji agar ia menjadi laik bersama-sama Allah SWT. dan rasulNya saw. karena biasanya orang-orang mengklaim bersama-sama Allah SWT. dan rasulNya diserta mereka dilumuri berbagai kotoran yang menghalanginya masuk ke hadapan Allah dan rasulNya lalu mereka bertambah ditolak dan dimurkai. Beramalah hai saudaraku dalam kondisi cermin hatimu bersih dari noda dan debu dan dalam kondisi sucimu dari berbagai cacat sampai-sampa tak tersisa pada anda satu halpun yang menghalangi anda dari masuk ke hadapan Allah SWT. atau hadapan Rasulullah saw. bila kamu memperbanyak salawat dan salam pada beliau saw. maka acapkali kamu sampai pada maqam menyaksikan beliau saw. dan ia caranya Syaik Nurudin asy Syauni, Guru Ahmad az Zawawi, Guru Muhamad bin Daud al Manzilawi, dan sekelompok dari para Guru Yaman karena salah seorang dari mereka senantiasa bersalawat pada Rasulullah saw. dan memperbanyaknya hingga ia bersih dari berbagai dosa dan berkumpul bersama beliau secara terjaga kapanpun ia mahu, ku diberi kabar oleh Guru Ahmad az Zawawi bahwasannya ia tak dapat berkumpul dengan nabi sawa. secara sadar haingg ia membiasakan salawat padanya sat tahun penuh, yang sehari semalam ia berselawat 50000 kali. Begitu juga ku diberi kabar oleh Guru Nurudin asy Syauni bahwa ia membiasakan salawat pada nabi saw. seperti ini dan itu selam setahun yang setiap hari ia bersalawat tiga puluh ribu kali.

Saya dengar tuanku, Ali al Khawash rhm. mengatkan: “Seorang hamba tidak sempurna dalam kedudukan irfan hingga ia berkumpul bersama Rasulullah saw. pada waktu kapanpun ia mahu.” Ia mengatakan: “Diantara yang sampai pada kita bahwasannya diantara salaf yang berkumpul bersama nabi saw. secara sadar dan langsung adalah Guru Abu Madyan, Guru Jama’ah, Guru Abdurahim al Qanawi, Guru Musa az Zuli, Guru Abul Hasan asy Syadzili, Guru Abul Abas al Mursi, Guru, Abu Su’ud bin Abu ‘Asyair, dan tuanku Ibrahim al Matbuli.”

Guru Jalaludin as Suyuthi pernah mengatakan: “Saya melihat nabi saw. dan berkumpul bersamanya lebih dari tujuh puluh kali.”

Sedangkan tuanku Ibrahim al Matbuli maka berkumpulnya bersama beliau (nabi saw.) tak terhitung karena ia (berkumpul bersama nabi) dalam semua kondisinya dan ia mengatakan: “Saya tak punya guru besar selain Rasulullah saw.” Syaik Abul Abas al Mursi mengatakan: “Sekiranya sesaat Rasulullah terhalang dariku, ku taka menganggap diriku termasuk sekumpulan orang mukmin.”

Ketahuilah bahwa kedudukan berkumpul bersama Rasulullah saw. sangat agung sekali, seseorang datang pada tuanku Ali al Marshafi dan saya hadir, lalu ia berkata: “Wahai tuanku, saya telah sampai pada kedudukan (dimana) aku jadi melihat Rasulullah saw. secara sadar kapanpun aku mahu.”Hai nak, antara si hamba dengan kedudukan ini dua ratus empat puluh tujuh ribu tahun (247000) sedangkan nak, yang dimaksud kami kamu mengatakan pada kami sepuluh kedudukan darinya.” Lalu yang mengklaim itu tidak tahu yang ia katakan dan ia malu. Ketahuilah itu. “Allah memberi petunjuk yang Ia kehendaki pada jalan yang lurus.”

Abu Daud, tirmidzi, ibn majah, dan ibn hiban dalam sahihnya meriwayatkan, al mundziri mengatakan: ini adalah hadis hasan sahih dari al Irbadl bin Sariyah r.a. ia mengatakan: “kami diberi nasihat oleh Rasulullah saw. dengan satu nasihat yang karenanya hati gemetar, dan mata bercucuran. Kami berkata, “wahai Rasulullah seolah-olah ia nasih perpisahan”. Lalu ia berwasiat pada kami seraya bersabda: “Aku berwasiat padamu dengan takwa, amal, mendengar dan patuh sekalipun kamu disuruh budah habsyi yang jelek sisi-sisinya karena yang hidup diantara kamu akan melihat perbedaan yang banyak maka kamu mesti dengan sunahku dan sunah khalifah rasyidun yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah ia dengan geraham dan hindarilah hal-hal yang diada-adakan karena setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu dalam neraka.”

Arti “Gigitlah ia dengan geraham.” Yaitu berusahalah berdasarkan cara sunah bukan berdasarkan cara bid’ah, tetapilah sunah, dan bersemangatlah padanya seperti yang menggigit sesuatu dengan gerahanya teguh karena takut lenyap dan hilangnya.”

Geraham adalah: taring dan katanya ia geraham.

Ibn Abi Dunia dan al Hakim meriwayatkan hadis marfu’ dan keduanya mengatakan sahih sanad: “Barangsiapa memakan yang baik dan beramal dalam sunah, orang aman dari kejelekannya masuk surga.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah sesungguhnya pada saat ini di kalangan umatmu banyak?” beliau: “Akan ada pada kaum setelahku.” Yaitu sedikit.

Al baihaqi meriwayatkan hadis marfu’: “barang siapa yang berpegang pada sunahku saat rusaknya umatku maka baginya pahala seratus syahid.” Al Hakim meriwayatkan hadis marfu’ dan ia mengatakan sanad sahih berdasarkan syarat Guruain: “Ekonomis dalam sunah lebih baik daripada ijtihad dalam bid’ah.”

Syaikhani dan yang lainnya meriwayatkan hadis marfu’: dari Umar bin Khatab r.a. bahwa ia mencium hajar aswad dan berkata, “Sungguh ku tahu engkau hanyalah batu tidak memberi madlarat dan manfaat. Dan sekiranya aku tidak melihat Rasulullah saw. menciummu aku tidak akan menciummu.”

Ibn Majah dan Ibn Hiban dalam sahihnya meriwayatkan dari Muawiyah bin Qurah dari ayahnya ia mengatakan: “Saya bertemu Rasulullah saw. dalam satu kelompok lalu kami berbaita padanya dan bahwa beliau membuka kancing.” Urwah bin Abdulah mengatakan: “Ku tak pernah melihat Muawiyah dan anaknya pada musim hujan ataupun kemarau melainkan ia membuka kancing.” Dalam satu riwayat, “Kancing keduanya terbuka.”

Ibn Khuzaimah dalam sahihnya dan al Baihaqi meriwayatkan dari Zaid bin Aslam ia mengatakan: “Saya melihat ibn Umar salat dalam kondisi kancingnya terbuka lalu ku menanyakan itu padanya. Ia menjawab: “saya melihat Rasulullah saw. melakukan itu.” Imam Ahmad dan al Bazar meriwayatkan dari Mujahid dan yang lainnya: “Kami bersama ibn Umar dalam satu perjalanan. Lalu kami melewati satu tempat lalu ‘menyingkir’ darinya.” Maka ditanya mengapa anda melakukan itu, ia menjawab: “saya lihat Rasulullah saw. melakukan ini maka saya lakukan.” Ucapan ‘menyingkir’: yaitu menyingkir darinya dan mengambil ke kanan atau ke kiri.

Al Bazar meriwayatkan dari ibn Umar bahwa ia pernah datang pada satu pohon diantara Makah dan Madinah lalu ia berqailulah dibawahnya dan ia memberitahukan bahwa nabi saw. pernah melakukan hal seperti itu.

Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan: “Bahwa ibn Umar menderumkan tunggangannya pada satu tempat lalu ia buang air dan ia memberitahukan bawha nabi saw. pernah buang air di sana.”

Saya katakan: “Ibn Umar r.a. mengikuti nabi saw. dalam itu hanyalah karena kesempurnaan akan hidup dari tanah itu bila mereka buang air di sana karena takut sebidang tanah itu dimuliakan yang tidak layak untuk buang air lalu saat ia melihat rasululllah saw. melakukan hal itu ia berkata dalam dirinya, “Sekiranya bahwa Rasulullah saw. tidak tahu bahwa sebidang tanah itu pantas untuk itu maka nabi saw. tidak melakukan itu.”

Al Hafirdz mengatakan: “Berbagai atsar dari sahabat r.a. mengenai ittiba’nya mereka pada beliau dan menganggap cukupnya mereka pada sunah-sunah beliau sangat banyak sekali. Allahlah yang lebih tahu.

 

3.      Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita termasuk generasi pertama dalam berbagai amal baik, maka kita memulai melakukan kebaikan sebelum orang-orang berlomba pada kebaikan dan ditradisikan orang-orang dan hal itu seperti bila kita melihat orang memohon pada orang dan tak seorangpun memberikan satu halpun, lalu kita memberinya dihadapan orang-orang sebagai suport bagi mereka memberi dan kita tidak memberinya secara sembunyi-sembunyi. Begitu juga kita mensuport agar kita bangun malam sejak munculnya terang yang mula-mula: “Yang maha benar swt. memanggil apakah ada yang memohon maka saya penuhi permohonannnya, apakah ada yang memohon ampun maka ku mengampuninya, apakah ada yang diuji maka ku mensehat walfiatkannya.”

Hingga hal terakhir yang ada mengenai itu yaitu awal sepertiga malam pada mayoritas kemunculan (tajali) yang pada saat itu beliau saw. bertahajud seperti yang diisyaratkan firmanNya swt.: “sesungguhnya tuhanmu tahu bahwa kamu bangun dekat dua pertiga malam, setengahnya dan sepertiganya.”

Dan itu untuk menjadikan kita sebagai teladan bagai saudara-saudara kita dan tetangga-tetangga kita karena acapkali salah seorang bangun bertahajud saat ia melihat kita maka dicatatkan pahala untuk kita dan untuknya. Dan masuk bab ini pula kita menampakan kesabaran atas berbagai bencana dan ujian pada masa kini agar orang-orang meneladani kita dalam kesabaran dan tidak bermuram durja, lalu bila kita telah melihat kesabaran telah sampai pada batasnya kita tampakan kelemahan hingga terangkat seperti yang terjadi pada Nabi Ayub a.s. maka diketahuilah bahwa setiap yang beramal boleh menyembunyikan amalnya semampunya kecuali dalam posisi ia diteladani dalam aktivitas dan caranya.” Allahlah yang lebih tahu.

Saya mendengar tuanku, Ali al Khawash r.a. berkata: “Tak seyogyanya memperlihatkan amal kecuali bagi para pembesar ulama dan orang-orang salih yang menyelem diatas aneka penelitian jiwa sedangkan yang semacam kita maka acapkali salah seorang kita menampakan aneka amalnya karena pamrih, dan sum’ah, dan ia tertipu jiwanya lantas anda berkata padanya alhamdulillah anda termasuk orang yang tulus dan anda menampakan ini hanyalaha agar anda diikuti orang-orang. Maka untuk yang semacam ini mesti menguji dirinya sendiri dengan sekiranya seseorang datang melakukan kebaikan itu dan orang-orang sama mengikutinya atau bahkan lebih. Bila ia lapang dada karena itu maka ia tulus bila siratannya mendelu maka ia pamrih yang lembut jalannya (دق المطرقة) dan sekiranya tulus tentu ia benar-benar bergembira sebab hal itu yang mana Allah mentakdirkan baginya yang memenuhi tanggung jawabnya “yaitu mencukupinya beban mengajarkan mereka” kemudian bila jiwanya berkata padanya ia gundah hanyalah karena lenyapnya kebaikan yang besar yang kamu peroleh dari segi bahwa ia kebaikan maka hendaknya ucapkan padanya sesungguhnya aku bergantung pada karunia Allah bukan pada amal-amal bila ku masuk surga maka itu semata-mata sebab rahmat Allah SWT. bukan karena amalku. Maka seyogyanya bagi hamba tidak cenderung pada seruan jiwanya mengenai ketulusan seorang Guru atau pengajar hendaknya menguji dirinya sendiri dengan bila semua jamaahnya lari darinya pada salah seorang rekannya dan ia tersisa sendirian tak ada seorangpun yang berguru padanya bila ia lapang terhadap hal itu maka ia tulus bila dalam jiwanya terperoleh marah (mendelu) maka wajib baginya untuk mengambil seorang Guru yang mengeluarkannya dari berbagai kegelapan pamrih dan bila tidak ia mati dalam kondisi bermaksiat dan pergi ke akhirat dengan tangan hampa dari kebaikan karena Allah SWT. tidak menerima satu amalpun.

Saya juga mendengarnya berkata: “Seyogyanya bagi yang beramal bila ia mengajar di semacam universitas al Azhar  agar ia memurnikan niatnya sebelum itu. Sekiranya ia diam beberapa tahun tanpa pengakuan hingga ia memiliki niat yang baik untuk itu. Dan itu dikarenakan kebiasaan masuknya para pembesar seperti pemerintah dan orang-orang kaya ke universitas yang si jiwa cenderung pada pandangan mereka. An Nawawi bila ia mengajar di Madrasah al Asyrafiyah di Damaskus ia berwasiat pada siswa-siswanya agar tidak datang sekaligus karena takut pada besarnya halaqah. Dan bila ia mengajar ia duduk di lorong masjid dan ia berkata: “Sesungguhnya jiwa merasa indah dengan pandangan orang padanya saat ia mengajar di tengah mesjid atau depannya.

Pada suatu hari saat ia mengajar di Jami’ Bani Umayah sampai padanya bahwa Raja yang Agung berencana salat di Jami’. Maka ia meninggalkan pengajaran dan menghadiri mesjid pada hari itu. Maka hindarilah hai saudaraku anda mengadakan majlis ilmu, zikir pada Allah SWT. ataupun salawat pada Rasulullah saw. dimana anda dilihat orang-orang kecuali anda selamat dari aneka penyakit ini.

Suatu ketika ku menghadiri Guru, al ailm, al amil, Samsudin al Laqani mufti mazhab maliki di universitas al Azhar dan ia berkata pada guru kami Guru Nurudin asy Syauni Guru majlis salawat pada Rasulullah saw.: “Demi Allah hai saudaraku aku khawatir kehadiranmu di universitas di majlis ini pada malam dan siang jum’at sedangkan petinggi pemerintah dan para pembesar melihatmu dan mereka mengukuhkanmu atas hal itu dan mereka berkata sesuatu milik Allah berilah karunia. Karena acapkali dirimu cenderung apda menyenangi senangnya sebab hal itu maka anda rugi dunia dan akhirat.

Pada kesempatan lain ku mendengarnya berkata: “Bila orang-orang telah selesai salat jum’at maka bersabarlah untuk membaca surah al Kahfi hingga orang-orang kembali kemudian mulailah membaca karena jiwa merasa senang (bangga) orang-orang melihatnya dalam perayaan yang besar itu.

Hai saudaraku ketahuilah hal itu dan kerjakanlah serata dengan petunjuk mereka yang benar ikutilah dan Allahlah yang menguasai hidayah terhadapmu.

Muslim, Nasai, Ibn Majah, dan yang lainnya meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. didatangi kaum dari Mudlar mujtabii an Nimar (yaitu mereka yang memakai mantel wol yang bergaris-garis) lalu wajah Rasulullah saw. berubah karena marah karena kepakiran yang beliau lihat pada mereka lalu beliau masuk kemudian keluar. Beliau menyuruh bilal adzan lalu iqomat, beliau salat kemudian khutbah seraya berkata: “Hai manusia bertakwalah pada tuhanmu yang telah menciptakanmu dari satu jenis” hingga firmanNya “sesungguhnya Allah mengawasimu”, dan ayat yang ada dalam (surat) al Hasyr “Takulah pada Allah dan hendaklah jiwa memperhatikan yang ia sajikan untuk hari esok (akhirat)”. Bersedekahlah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, satu sa’ kurma, satu sa’ jagung hingga ia bersabda sekalipun dengan sebiji kurma.” Lalu seorang anshar membawa satu wadah uang yang tangannya hampir tak sanggup membawanya lalu orang-orang mengikuti hingga jadi dua tumpukan besar makanan dan pakaian hingga wajah Rasulullah berbinar lalu Rasulullah bersabda: “Barang siapa mentradisikan tradisi baik dalam islam maka baginya pahalanya dan pahala orang sepeninggalnya yang melakukannya tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka.” Hadis.

Dalam riwayat imam Ahmad, al Hakim, Ibn Majah dan yang lainnya sebagai hadis marfu’: “Barang siapa mentradisikan kebaikan lalu ia menjadi tradisi maka baginya pahalanya dan pahala-pahala serupa dari orang yang mengikutinya tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka.” Hadis.

Sedangkan dalam riwayat Thabrani sebagai hadis marfur’: “Barang siapa yang mentradisikan kebaikan maka baginya pahalanya selama ia diamalkan oleh pengamal selama hidupnya dan setelah matinya hingga ia ditinggalkan.” Hadis.

Ibn Majah dan Tirmidzi meriwayatkan hadis marfu’ dan ia mengatakan hadis sahih hasan: “Barang siapa menghidupkan salah satu sunahku yang sepeninggalku telah mati maka baginya pahala semisal yang mengamalkannya tanpa sedikitpun hal itu mengurangi pahala mereka, dan barang siapa yang membuat bid’ah dengan bid’ah yang sesat yang tidak diridlai Allah dan rasulNya maka baginya semisal dosa yang melakukannya tanpa sedikitpun hal itu mengurangi dosa-dosa manusia.”

Arti tidak diridlai Allah dan rasulNya adalah: baik oleh kitab maupun sunah tidak menyaksikan akan keabsahannya.

Ibn Majah, Tirmidzi dan yang lainnya meriwayatkan hadis marfu’: “sesungguhnya kebaikan ini memiliki gudang, dan gudang itu memiliki kunci-kunci maka berbahagialah bagi hamba yang dijadikan Allah sebagai kunci pembuka kebaikan dan penutup kejelekan.” Allah SWT.lah yang lebih tahu.

 

4.      Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita senantiasa menelaah ilmu dan mengajarkannya pada orang-orang baik siang maupun malam selain ibadah-ibada yang diberi waktu dan aneka kebutuhan mendesak.

Madzhab imam kita Syafi’i r.a. bahwa mencari ilmu dengan ikhlas lebih utama daripada salat sunat. Ketahuilah bahwa tidaklah pembawa syariat saw. menjadikan bermacam-macam ibadah yang beragam keutamaan dalam pahalanya melainkan tahunya beliau saw. adanya kejemuan pada para pengamal, walaupun ia dalam hal-hal yang wajib. Bila ada kejemuan di dalamnya mereka berpindah pada kewajiban lain atau pada hal tersebut yang diutamakan. Begitu juga bila kejemuan terperoleh darinya mereka berpindah pada yang diutamakan, yang utama, atau yang paling utama lainnya selama mereka tidak mendapat kejemuan mengenainya dalam jiwanya. Maka diketahuilah bahwa sebab beragamnya aneka perintah adalah adanya kejemuan mengenainya bila ia kontinyu. Sekiranya tergambara bahwa manusia tak jemu dari berbagai kewajiban atau sesuatu yang lebih utama tentu beliau saw. diperintah untuk menetapinya dan meninggalkan hal-hal yang diutamakan secara global karena sesungguhnya mereka yang mendekat pada Allah SWT. tidak mendekat dengan seperti melaksanakan yang dipardukan pada mereka tapi saat mereka memiliki kejemuan dalam berbagai kewajiban hingga dalam jiwa pengamal tak tersisa pendorong (motivasi), kekhusyuan, dan kelezatan dengan berbagai ibadah maka amal yang diutamakan yang memiliki motivasi, kelezatan dan kekhusyuan lebih sempurna dan utama.

Imam Syafi’i r.a. membagi malam tiga bagian, 1) satu bagian untuk tidur, 2) satu bagian menelaah hadis dan menggali (hukum), dan 3) bertahajud. Ia pernah mengatakan: “Sekiranya tiada diskusi bersama rekan-rekan mengenai ilmu dan tahajud pada malam hari saya tak senang tetap di dunia ini.” Maka diketahuilah bahwa tidak seyogyanya bagi pelajar mati-matian menelaah ilmu siang dan malam kecuali bilah niat mengenainya benar, dan tak seorangpun di negeri atau daerahnya menduduki posisinya. Bila kecintaan pada kedudukan masuk rumahnya, mencari dunia, atau seseorang menempati posisinya dalam menyebarkan ilmu maka sibuk dengan setiap keta’atan yang niat mengenainya lurus lebih utama. Nanti akan ada dalam perjanjian bahwa termasuk sejumlah mengamalkan ilmu taubat dan istigfarnya si hamba bila ia terjerumus dalam kedurhakaan. Karena sekiranya tiada ilmu ia tidak akan mengenal bahwa itu kedurhakaan dan tidak akan taubat. Renungkanlah.

Daud ath Thaiy rhm. mengatakan: “Pelajar seperti tentara. Bila usianya habis dalam mempelajari cara bertempur maka kapa ia akan bertempur? Maka diantara kerasionalan orang berakala adlah setiap kali ia melihat dirinya beramal dengan setiap yang ia tahu dan butuh pada ilmu maka hendaknya ia mendahulukannya diatas semua ketaatan yang tidak diperintahkan (oleh) pemberi syariat untuk mendahulukannya, dan setiap ia melihat dirinya tidak butuh pada ilmu dan ilmunya melebihi keperluannya maka hendaknya ia mendahulukan yang lainnya atasnya. Sebagaimana yang dipegang oleh salafus salih karena setiap manusia mesti tahu dan beramal, sedangkan sibuk dengan salah satunya mengabaikan yang lainnya adalah kekurangan. Ketahuilah bahwa (keterangan) yang ada mengenai keutamaan ilmu dan mengajarkannya hanyalah pada hak mereka yang tulus dalam hal itu maka jangan keliru mengenai itu karena pengkritik itu lebih melihat. Pada kemi telah terjadi banyak perdebatan berasa para tukang debat mengenai itu. Kami lihat mereka siang malam rakus terhadap dunia sambil mereka mengklaim ilmu, dan pengagungan jiwa mereka terhadap ilmu dan berdebat tanpa meningkat pada pengamalan dengan yang mereka tahu. Salah seorang mereka berargumen dengan (hadis) yang ada mengenai ketuamaan ilmu dan lupa hadis-hadis yang ada mengenai cercaan pada orang yang tidak mengamalkan ilmunya walaupun satu kalimat. Ini semua adalah penipuan pada diri. Sedangkan dalam al Qur’an yang agung:

هاأنتم هؤلاء جادلتم عنهم فى الحياة الدنيا فمن يجادل الله عنهم يوم القيامة امن يكون عليهم وكيلا

Saudaraku tempuhlah pada tangna Guru yang mengeluarkanmu dari jurang, kegelapan, dan klaim ini. Menangislah akan kelalaianmu dalam aneka amal hingga ia menjadi dua garis hitam pada mukamu karena aliran air mati. Dan bila kamu tidak menempuh sebagaimana kami sebutkan maka kepayahanmu di akhirat lama sekali dan alangkah ruginya kepayahanmu dalam memperoleh dunia.

Saya mendengar tuanku Ali al Khawash rhm. berkata menganai makna hadis: “Sesungguhnya Allah pasti memperkuat agama ini dengan orang-orang durhaka.” Artinya bahwa orang-orang mengambil manfaat dengan ilmu, pengajaran, fatwa, dan pembelajaran dari yang durhaka hingga dalam gambarannya seperti ulama yang beramal kemudian setelah itu ia dimasukan Allah ke dalam neraka karena ketulusannya yang kosong sebagaimana barusan disampaikan. Kita memohon pada Allah yang maha lembut (untuk menjauhkan kita darinya). Ketahuilah hal itu. Allah yang mengurus hidayahmu.

Syaikhani dan yang lainnya meriwayatkan hadis marfu’: “Barangs siapa Allah kehendaki baik padanya Ia berikan pemahaman agama padanya.” Dalam satu riwayat ditambahkan: “Diantara hamba yang takut padaNya hanyalah ulama.”

Al Bazar dan Thabrani meriwayatkan hadis marfu’: “Bila Allah menghendaki baik pada hambaNya maka Ia berikan pemahaman agama padanya dan mengilhamkan bimbingan padanya.”

Thabrani meriwayatkan hadis marfu’: “Ibadah yang terbaik adalah pemahaman dan ketundukan yang paling utama adalah wara’.”

Thabrani dan al Bazar meriwayatkan hadis marfu’ dengan sanad yang baik: “Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah dan ketundukanmu yang terbaik adalah wara’.”

Thabrani meriwayatkan hadis marfu’: “Ilmu yang sedikit lebih baik daripada ibadah yang banyak, cukuplah seseorang berpemahaman bila ia menyembah Allah dan cukuplah seseorang itu bodoh bila ia kagum pada logikanya.”

Itu diriwayatkan Al Baihaqi dengan sanad yang baik dari ungkapan Mathraf bin Abdulah bin asy Syakhir r.a. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan yang lainnya meriwayatkan hadis marfu’: “Barang siapa yang menempuh jalan yang padanya ia mencari ilmu maka Allah mudahkan baginya satu jalan ke surga.” Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibn Hiban dalam sahihnya meriwayatkan hadis marfu’, “Sesungguhnya para malaikat meletakan sayap-sayapnya bagi pencari ilmu karena ia rela pada yang ia perbuat dan sesungguhnya orang yang berilmu dimohonkan ampun oleh yang di langit dan yang di bumi sampai-samapi ikan-ikan di lautpun. Keutamaan yang berilmu atas ahli ibadah (yang tanpa ilmu) seperti keutamaan rembulan atas seluruh bintang-gemintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tak mewariskan dinar dan dirham, tapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang penuh.”

Ibn Majah dan yang lainnya meriwayatkan hadis marfu’: “Mencari ilmu fardlu atas seitap muslim dan yang meletakan ilmu pada selain ahlinya seperti yang mengalungkan intan, permata, dan emas pada babi.”

Thabrani meriwayatkan hadis marfu’: “Barang siapa ajalnya tiba saat ia mencari ilmu maka ia menemu Allah yang tidak ada (perbedaan) antara ia dan para nabi selain darajat kenabian.”

Ibn Majah meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abu Dzar ia mengatakan: “Rasulullah saw. bersabda padaku: “Sungguh kamu berangkat pagi-pagi lalu belajar satu ayat dari kitab Allah lebih baik bagimu dari kamu salat seratus rakaat. Sungguh kamu berangkat pagi-pagi lalu mempelajari satu bab dari imu baik kamu amalkan maupun tidak itu lebih baik bagimu daripada kamu salat seribu rakaat.”

Al Khatib meriwayatkan hadis marfu’ dengan sanad yang baik: “Ilmu ada dua: ilmu dalam hati, maka itu imu yang bermanfaat dan ilmu dalam lisan maka itu hujah Allah pada manusia.”

Ad Dailami dalam musnadnya dan Abu Abdurahman as Sulami dalam arbain mengenai tasawuf, al Hakim dan Tirmidzi dalam nawadir usul meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya diantara ilmu ada yang seperti kondisi yang tersembunyi yang hanya diketahu oleh ulama Allah SWT. bila mereka membicarakannya tidak akan mengingkarinya kecuali mereka yang tertipu Allah azza wa jalla.”

Hadis mengenai itu alangkah banyak sekali. Allahlah yang lebih tahu.

5.      Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. bila kita tidak mendapatkan seorangpun yang darinya kita belajar ilmu syara’ di negeri kita (hendaknya) kiga pergi ke negeri yang disana ada ilmu. Ia dalah hijrah yang wajib bagi kita karena kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya maka ia wajib. Perjanjian ini telah dirusak oleh mayoritas makhluk dan mereka meninggal dalam kebodohan padahal ulama ada di negerinya dan acapkali mereka bertetangga. Ulama mengatakan: “Barang siapa salat dalam kondisi bodoh cara berwudlu dan salat yang ia maksud atau yang lainnya maka ibadahnya tidak sah meskipun ia sesuai dengan keabsahannya.” Ia diperkuat hadi sahih marfu’: “Setiap amal yang padanya tidak ada perintah kami maka ia tertolak.”

Barang siapa yang salat, nikah, jual beli, puasa dan haji berdasarkan ia lihat orang-orang melakukan saja maka ibadahnya rusak. Renungkanlah yang padanya ada keraguan saat ditanya munkar dan nakir mengenai agamanya dan mengenai nabinya saw. lalu ia mengatakan: “Saya tak tahu saya dengar orang-orang mengatakan sesuatu maka saya mengatkannya” bagaimana keduanya memukulnya dengan gada yang sekiranya ia dipukulkan pada gunung maka ia akan hancur seperti yang ada (dalam hadis). Kamu tahu bahwa pemberi syariat mewajibkan atasmu mengenal urutan aneka ibadah dan bahwasannya tak cukup bagimu mengikuti orang-orang atas pekerjaan mereka tanpa mengetahui. "والله يهدى من يشاء إلى صراط مستقيم"

Hadis muslim dan yang lainnya sebagai hadis marfu’ telah dikemukakan: “Barang siapa menempuh satu jalan yang padanya ia mencari ilmu maka Allah SWT. mudahkan untuknya satu jalan menuju surga sebabnya.”

Tirmidzi serta disahihhkan ibn Majah, ibn hiban dalam sahihnya, dan al Hakim serta ia mengatakan sahih isnad sedankan lafadz Ibn majah meriwayatkan hadis marfu’: “Tak seorangpun yang keluar keluar dari rumahnya dalam (rangka) mencari ilmu melainkan mara malaikat meletakan sayap-sayapnya untuknya karena rela pada yang ia perbuat.”

Thabrani dengan sanad yang tak mengapa meriwayatkan hadis marfu’: “Barang siapa yang pergi pagi-pagi ke masjid yang ia hanya hendak belajar kebaikan atau mengajarkannya maka baginya (pahala) laksana pahala haji yang hajinya sempurna.”

Hadis-hadis mengenai itu banyak sekali. Allahswt.lah yang lebih tahu.

6.       Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita memperdengarkan hadis pada orang-orang, ingat setiap yang sedikit sekali dan kita menyampaikannya pada negeri yang disana tidak ada hadis-hadis dan itu dengan kita menulis buku-buku hadis dan mengirimkannya ke negeri-negeri islam.

Alhamdulillah saya telah menulis satu buku yang mengumpulkan argumen-argumen aneka madzha dan saya mengirimnya bersama sebagian pelajar  pada negeri-negeri التكرور saat mereka memberitahukan padaku bahwa buku-buku hadis hampir tak ada pada mereka. Mereka hanya memili buku-buku bermadzhab Maliki tak ada yang lain. Dan saya mengirimkan salinan lain ke negri magrib. Semua itu karena cinta pada Rasulullah saw. dan mengamakan berdasarkan keridlaannya saw.

Sufian ats Tsauri, Ibn Uyinah, dan Abdulah bin Sinan mengatakan: “Sekiranya salah seorang dari kami Hakim tentu kami memukul dengan الجريد pada fakih yang tak mempelajari hadis, dan muhadis (pakar hadis) yang tak mempelajari fikih.”

Dalam penulisan hadis dan memperdengarkannya pada orang-orang ada aneka kegunaan yang besar, diantaranya ketiadaan اندراس argumen-argumen syariat, karena bila orang-orang secara global tidak tahu argumen-arguman (kita berlindung pada Allah darinya) acapkali ia tidak mampu menolong syariatnya dihadapan bantahan dan ucapan mereka: “Kami mendapati nenek moyang kami atas hal itu.” tak cukup dan apa yang memadlarakan seorang fakih untuk menjadi muhadis yang mengetahu argumen-argumen setiap bab fikih.

Diantaranya memperbaharui selawat dan salam pada Rasulullah saw. pada setiap hadis dan begitu juga memperbaharui taradli, dan tarahum pada para sahabat, dan tabiin dari para periwayat hadis hingga saat kita ini.

Dinataranya (dan ia kegunaan terbesarnya) memperoleh doa beliau saw. bagi yang menyampaikan sabdanya pada umatnya dalam sabadanya: "نضر الله امرأ سمع مقالتى فوعاها فأداها كما سعها" “Semoga Allah memperindan dan memperelok orang yang mendengar ucapanku. Ia menguasainya. Lalu melaksanakannya sebagaimana ia mendengarnya.” Sedangkan doa beliau saw. tak diragukan dikabulkan kecuali yang dikecualikan seperti tiada pengkabulan beliau saw. mengenai bahwa Allah SWT. tidak menjadikan bahaya umatnya diantara mereka seperti yang ada.

Dan sabda beliau “Melaksanakannya sebagaimana ia mendengarnya” difahami bahwa doa itu khusus pada orang yang melaksanakan sabda beliau saw. sebagaimana ia mendengarnya huruf demi huruf berbeda dengan yang mengamalkannya secara makna maka acapkali ia tidak terkena dari doa itu sedikitpun dan karena inilah sebagian memakruhkan mengutip hadis dengan maknanya, dan sebagian lagi mengharamkannya. “Allah itu maha pengampun maha pemurah.”

Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibn Hiban dalam sahihnya meriwayatkan hadis marfu’: “Semoga Allah memperindah dan memperbagus seseorang dengan akhlak yang baik dan amal yang diridlai.” Dalam riwayat Ibn Hiban: “Semoga Allah merahmati orang yang mendengar sesuatu dari kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarkannya karena betapa banyak yang menyampaikan lebih menguasai dari yang mendengar.”

Makna نضرالله adalah: permohonan dengna ‘nadlarah’ yaitu ni’mat, keelokan, dan kebaikan. Perkiraannya semoga Allah memperindah dan membuatnya elok dengan akhlak yang baik dan aktivitas yang diridlai. Katanya selain itu.

Dalam riwayat Thabrani hadis marfu’: “Acapkali pembawa fikh bukan seorang pakar fikh, betapa sering pembawa fikh (membawa) pada yang lebih ahli fikh darinya.”

Dan dalam satu riwayatnya juga: “Ya Allah rahmatilah para penggantiku (khalifahku)”, mereka bertanya: “Wahai rasulullha sidapakan para khalifahmu?” beliau mejawab: “Mereka yang datang sepeninggalku meriwayatkan hadis-hadisku dan mengamalkannya untuk manusia.””

Al Hafidz Abdul Adzim rhm. mengatakan: “Penyalin ilmu yang bermanfaat baginya pahalanya dan pahala orang yang menbacanya, menyalinnya, atau mengamalkannya sepeninggalnya selama tulisannya dan amalnya ada.” Menurut hadis Muslim: “Bila anak cucu adam meninggal amalnya putus kecuali dari tiga: 1) Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat,” Hadis.

Ia mengatakan: “Sedangkan penyalin ilmu yang tidak bermanfaat yaitu yang menyebabkannya berdosa maka baginya dosanya dan dosa yang membacanya, menyalinnya, atau mengamalkannya sepeninggalnya selama tulisannya dan amalannya ada sebagaimana diberi kesaksian oleh hadis: “Barang siapa mentradisikan suatu tradisi jelek maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya.””

Itu seperti ilmu sihir, براهمة, ilmu جابرالمبدل dan semacamnya dari yang memadlaratkan pemiliknya di dunia dan akhirat. Thabrani dan yang lainnya meriwayatkan hadis marfu’: “Barang siapa berselawat padaku dalam satu buku malaikat senatiasa memohonkan ampun untuknya selama namaku ada pada buku itu.” Allahlah yang lebih tahu.

7.      Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita mengosongkan jiwa kita untuk menyertai ulama sekalipun kita ulama karena acapkali mereka diberi Allah ilmu yang tidak diberikan pada kita. Perjanjian ini jarang diamalkan oleh mayoritas pakar fikih dan sufi. Mereka mengklaim memiliki ilmu yang tidak ada pada semua orang bahkan saya mendengar saat saya mengecamnya karena tidak bolak-balik pada ulama sebagian mereka mengatakan: “Demi Allah sekiranya saya tahu di Mesir ada seseorang yang memiliki ilmu lebih diatas yang aku punya maka aku pasti melayani sandalnya. Tapi alhamdulillah kami telah diberi Allah SWT. ilmu yang sebabnya kami tidak butuh pada orang-orang.” Ini semua adalah kebodohan akan teks syara’ sebagaimana akan tiba dalam sabda beliau saw.: “Siapa yang mengatakan aku tahu, maka ia bodoh.”

Dalam kisah Musa bersama Hidir a.s. ada kecukupan bagi setiap yang mengambil pelajaran. Saudaraku, berkumpulah setiap ada kesempatan pada ulama, dan ambilah manfaat-manfaat mereka, jangan menjadi termasuk mereka yang lalai darinya, lalu kamu terhalang dari keberkahan semua ahli priodemu karena kamu memandang dirimu lebih tingga atau sama dengan mereka karena curahan ilmu ketuhanan atau yang lainnya hukumnya adalah hukum air. Sedangka air hanya mengalir pada hal-hal yang rendah. Maka yang memandang dirinya sendiri lebih tinggai diatas rekan-rekannya limpahan dari mereka tidak naik padanya, dan yang memandang dirinya sama dengan mereka maka bantuan mereka diam seperti dua telaga yang sama rata. Maka semua kebaikan hanya tersisa pada kesaksian si hamba bahwa ia berada dibawah setiap kaum muslimin yang duduk agar bantuan dari mereka turun padanya sebagaimana kami jelaskan itu dalam permulaan janji para Guru. Allah maha tahu, maha bijak.

Thabrani meriwayatkan hadis marfu’ dari Ibn Abas r.a.: “Bila kamu melewati taman-taman surga maka berhentilah” mereka bertanya: “Wahai Rasulullah apa itu taman-taman surga?” beliau menjawab: “Majlis-majlis ilmu.” Ia mengatakan: “dalam sanadnya ada perawi yang tidak disebutkan.

Dalam riwayatnya juga dari Ibn Umamah bahwa Luqman a.s. berkata pada putranya: “Wahai anakku, kamu mesti duduk bersama ulama dan dengarkan ungkapan mereka yang bijak karena Allah SWT. akan menghidupkan hati yang mati dengan inti hikmah seperti Allah menghidupkan tanah yang mati dengan hujan yang lebat.”

Al Hafidz al Abdari mengatakan: “Barangkali hadis ini Mauquf.”

Abu Ya’la meriwayatkan dari Ibn Abas (para perawinya adalah perawais sahih kecuali satu), ia mengatakan: “Ditanyakan pada Rasulullah siapa teman duduk kita yang terbaik?” beliau menjawab: “Yang pandangannya mengingatkanmu pada Allah, yang kata-katanya menambah ilmumu, dan yang ilmunya mengingatkanmu akan akhirat.”

Allah SWT. lebih tahu.

8.      Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw.untuk memulikan ulama, mengagungkan dan menghormatinya, dan kita tidak memandang punya kekuasaan untuk membalas mereka sekalipun kita memberikan semua yang kita miliki padanya atau kita melayani mereka sepanjang usia kita. Perjanjian ini telah dirusak oleh umumnya para pelajar dan siswa dalam jalur kesufian saat ini hingga kita hampir tak melihat seorangpun dari mereka melaksanakan hak gurunya dan ini adalah penyakit yang besar dalam agama menyatakan penghinaan ilmu padahal sebab perintah beliau saw. yang memerintahkan kita untuk mengagungkan ulama lalu salah seorang mereka menjadi angkuh diatas gurunya hingga gurunya menjadi menjilat dan mencari muka hingga ia diam darinya. Maka لاحول ولاقوة إلا بالله العلي العظيم sampai pada kita dari Imam Nawawi bahwa suatu hari diundang gurunya al Kamal al Irbili untuk makan bersamanya lalu ia berkata: “wahai tuanku maafkanlah aku darinya. Karena aku punya udzur syara’.” Lalu ia meninggalkannya lalu ditanyakan oleh sebagian rekan-rekannya apa udzur itu? ia menjawab: “Saya khawatir mata guruku mendahului (melirik) pada sesuap makan lalu saya memakannya sambil saya tidak merasakan itu.” dan ia r.a. bla keluar belajar untuk berguru pada gurunya ia bersedekah darinya di jalan dengan yang mudah baginya dan ia mengucapkan: “Ya Allah tutuplah mataku dari aib pengajarku hingga mataku tak melihat pada satu kekurangannyapun dan tidak sampai padaku darinya mengenai seorangpun r.a.” kemudian – hai saudaraku – minimal penyakit dari etikamu yang jelek bersama guru kamu terhalang dari berbagai manfaatnya. Adakalanya dengan tersembunya darimu karena marah padamu, adalakanya lisannya terikat (tertahan) dari menjelaskan berbagai makna padamu maka kamu tak memperoleh dari ungkapannya pada sesuatu yang jadi sandaranmu sebagai siksa padamu. Bila seorang dari pemula datang padanya bersamanya lisannya fasih padanya ke tempat sedekah dan mendidiknya etika bersamanya. Maka diketahui bahwa seyogyanya bagi pelajar becakap-cakap bersama gurunya dengan pengagungan, mendunduk, dan menundukan pandangan seperti ia bercakap-cakap dengan raja dan sama sekali tidak menggugatnya dengan ilmu yang diambil darinya pada satu waktu sebagai cara perkenalan lantas ia berkata: “Wahai tuanku kami mendengar anda kemarin menyatakan pada kami yang bersebrangan dengan ini lalu mana dari dua pernyataan yang anda pegang hingga kami memeliharanya dari anda?” dan semacam itu dari kata-kata yang di dalamnya ada kejelekan etika. Begitu juga seyogyanya ia tidak menikahi istri gurunya baik itu mutlak semasa hidupnya tau setelah meninggalnya, begitu juga tak seyogyanya baginya berjalan pada profesinya, tempat menyendirinya, atau rumahnya setelha meninggalnya terlebih lagi semasa hidupnya kecuali karena madlarat syara’ yang dilebihkan atas etika bersama guru dan begitu juga seyogyanya tidak berjalan pada salah seorang teman gurunya, atau tetangganya terlebih lagi putra-putrinya karena yang wajib pada setiap siswa memelihara darinya dari yang merubah siratan gurunya baik ketika tiadanya maupun hadirnya.

Dalam buku ini juga akan ada ditengah-tengah janji jual belia maka silahkan telaah dan begitu juga kami membeberkan pembahasan dengan kutipan para ulama atas hal itu dalam janji para guru. “Allah itu maha perkasa maha bijaksana.”

Bukhari meriwayatkan: bahwa nabi saw. pernah mengumpul dua orang yang terbunuh di Uhud yaitu dalam kuburannya kemudian beliau bertanya: “Siapa yang paling banyak hafalan qur’annya?” maka saat ditunjukan pada salah seorangnya beliau mendahulukannya ke dalam lahat.

Saya katakan: makna keberadaannya paling banya menghafal (memelihara alqur’an) yaitu yang paling sering mengamalkannya seperti bangun malam, menajuhi larangan dan semacam itu. Thabrani dan Hakim meriwayatkan hadis marfu’ serta ia mengatakan sahih berdasarkan syarat muslim: “Keberkahan bersama oran-orang yang lebih tua diantara kalian.”

Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Ibn Hiban dalam sahihnya meriwayatkan hadis marfu’: “Tidak termasuk (golongan) kami yang tidak menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.”

Dalam riwayat Imam Ahmad, Thabrani dan Hakim: “Bukan umatku yang tidak mengagungkan yang tua, menyangi yang muda dan mengenal hak yang berilmu dari kita.” Dalam satu riwayat: “Mengenal kemulian yang tua.”

Thabrani meriwayatkan: “Bertawadlu’lah pada yang darinyalah kamu belajar.”

Thabrani juga meriwayatkan: “Tiga yang tidak hanya orang munafik yang merendahkan mereka: “Orang tua dalam islam, yang memiliki ilmu, Imam yang adil.” Hadis.

Imam Ahmad dan Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abdulah bin Basyir ia mengatakan: “Saya mendengar satu hadis sejak wakut itu: “Bila kamu berada pada satu kaum berjumlah dua puluh orang, kurang atau lebih. kamu بصفح pada muka mereka lalu kamu tida melihat pada mereka seoarang yang takut pada Allah azza wa jalla maka ketahuilah sesungguhnya hal itu telah lembut.”

Thabrani meriwayatkan hadis marfu’: “Aku tida mengkhawatirkan pada umatku kecuali tiga hal, lalu ia menyebutkan diantaranya mereka melihat yang berilmu lalu mensia-siakannya dan tidak bertanya padanya.”

Allah SWT. lebih tahu.

9.      Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. bila kita tidak mengamalkan ilmu kita agar kita menunjukannya pada kaum muslimin yang bisa mengamalkannya dan sekalipun itu tidak menututup cacat kita secara sempurna karena diantara orang ada yang diberi bagian ilmu tapi tak diberi bagian mengamalkannya, ada yang diberi bagian ilmu dan amal, dan ada yang diberi bagian salah satu darinya seperti sebagian awam.

Saya dengar tuanku Ali al Khawash rhm. mengatakan: “Ditentukan pada setiap yang tidak mengamalkan ilmunya untuk mengajarkannya pada orang-orang dan pada yang ia harapkan mengamalkannya.” Pada kesempatan lain saya mendengarnya mengatakan: “Tiada seorang alim melainkan ia mengamalkan ilmunya sekalipun dengan salah satu bentuk selama akalnya ada dan itu bila ia mengamal berbagai perintah syara’ dan menjauhi aneka larangan maka ia telah mengamalkan ilmunya dengan yakin bila ia diberi karunia (oleh) Allah keikhlasan di dalamnya sekalipun ia tidak mengamalkan ilmunya sebagaimana yang telah kita sebutkan. Karena sebab ilmu ia tahu bahwa ia bersebrangan terhadap perintah Allah lalu ia bertaubat dan menyesal maka ia juga telah mengamalkan ilmunya karena sekiranya tiada ilmu ia tak dapat petunjuk terhadap keberadaaannya meninggalkan amal terhadap ilmu itu satu kedurhakaan maka ilmu itu berfmanfaat dalam kondisi apapun dan hadis yang ada mengenai siksa pada yang tidak mengamalkan ilmunya dimungkinkan pada yang tidak bertaubat dari dosanya. Ini ungkapan yang indah.

Kesimpulan itu adalah bahwasannya tidak disyaratkan ada dalam adanya orang mengamalkan ilmunya tidak terjerumusnya dalam kemaksiatan seperti ayng segera (muncul) dalam hati, tapi yang disyaratkan hanyalah tidak terus-menerusnya pada dosa dan tidak terus-menurusnya pada kebebalan.

Dan begitu juga Ibn Majah dan Ibn Khuzaimah meriwayatkan: “Ilmu, amal, dan kebaikan mukmin yang menyertainya setalh matinya hanyalah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan.”

Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi meriwayatkan: “Yang menunjukan pada kebaikan baginya semisal ganjaran pelakunya atau pengamalnya katakan.”

Al Bazar dan Thabrani meriwayatkan: “Yang menunjukan pada kebaikan seperti pelakunya.”

Muslim dan yang lainnya meriwayatkan: “Yang menyeru pada hidayah baginya pahal semisal pahala yang mengikutinya yang hal itu sedikitpun tak mengurangi pahala mereka.”

Hakim meriwayatkan dari Ali r.a. mengenai firmanNya swt.: "قوا أنفسكم وأهليكم نار" ia mengatakan: “Ajari keluargamu kebaikan.”

Allah SWT. lebih tahu.

10.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita memuliakan masjid dan tidak buang air dekat dari pintu-pintunya selain tempat yang disediakan untuknya. Karena itu sebagai pengagungan dan penghormatan pada Allah SWT. dan janji ini telah dirusak oleh mayoritas orang yang tokonya dekat dari pintu-pintu masjid lalu mereka berat untuk masuk masjid jikan jika tempat bersuci masuk ke jalannya karena sandal mereka yang dilepas bila mereka masuk masjid atau karena itu ia beredar pada mereka dan semacam itu? pekerjaan ini termasuk hal terjelek. Salah seorang hendaknya merenung bila ia masuk istana sultan sama sekali ia tak mampu kencing di pintu istananya karena takut yang disertai hormat pada sultan dan taku pada para pembantunya padahal Allah SWT. lebih berhak dengan itu.

Akan ada tambahan atas itu dalam janji yang ke tiga belas setelah ini. Silahkan telaah.

Tuanku Ali al Khawash rhm. bila beliau hendak masuk masjid bersuci diluarnya atau di rumahnya dan sama sekali tidak masuk dalam keadaan berhadas untuk berwudlu di tempat wudlu yang berada di dalam mesjid karena takut masuk dalam kondisi berhadas. Bila ia masuk ia gemetaran karena takut hingga ia menyelesaikan salat lalu ia segera keluar dan mengucapkan الحمد لله الذى أطلعنا من المسجد على سلامة (Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan kita dari mesjid dalam keadaan selamat). Lalu saya tanyakan padanya: “Anda memuji Allah dalam hadir bersama Allah SWT. ketika masuk masjid dan keluarnya.” Beliau menjawab: “Hai nak, yang maha benar swt. telah menuntut dari kita berbagai etika di dalam mesjid yang tidak dituntut dari kita diluarnya. Perhatikanlah pada larangan beliau saw. pada yang duduk di masjid dari mencampurkan jari jemari, dari membolak-balik kerikil dan sebagainya. Kamu tahu yang kita katakan karena pembawa syariat saw. tidak melarang kita dari itu di luar masjid. Beliau r.a. suatu ketika melihat seseorang fakir berjalan dengan تاسومة yang bersih di tengah masji maka beliau menghardik dan melarangnya dari itu dan berkatak: “Bersikap wara’lah dalam suapan yang lebih kamu hati-hati.”

Satu kali seseorang berdiri padanya di dalam masjid maka dia menghardiknya dengan keras: “Bila hamba diagungkan di hadapan Allah SWT. ia meleleh seperti timah meleleh karena takukt pada Allah disekutukan dalam bentuk pengagungan dan kesombongan.” Bila beliau masuk ke mesjid tidak berani masuk sendiri tapi ia sabar di pintu hingga datang seseorang lalu ia masuk di belakangnya untuk mengikutinya. Dan ia berkata: “Masjid adalah hadapan Allah SWT. yang tidak memulai duduk dihadapan Allah SWT. sebelum orang-orang kecuali mereka yang dekat yang tidak ada kesalahan pada mereka, panca indranya sama sekali tidak kotor dengan kemaksiatan atau mereka yang terperosok dan mereka bertaubat dengan taubat yang sejati seperti para wali yang didahului pertolongan tuhan dengan kewalian yang besar dalam ketiadaan yang tidak dan mereka mengetahui ketersingkapan yang benar bahwa Allah SWT. telah menerima taubat mereka dan mengganti aneka kesalahannya dan kebaikan dimana tak tersisa padanya satu kesalahanpun yang ia bawa hadir dan kapanpun mereka menghadirkannya maka mereka tahu bahwa taubatanya berilat (berpenyakit) karena keberadaannya tak mengganti kejelekan mereka dengan aneka kebaikan karena bila ia terganti maka taka tersisa padanya satu gambaranpun dalam wujud, dalam hati,dan dalam indrawi. Beliau berkata: “Dan saya tidak termasuk daril salah seorang orang ini maka tidak pantas bagiku masuk sebelum orang-orang. Allah maka pengampun maha penyayang.

Abu Daud meriwayatkan hadis Mursal dari Makhul mengatakan: “Rasulullah saw. melarang kencing di pintu-pintu masjid.”

Allah SWT. lebih tahu.

11.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita menyempurnakan wudlu baik pada musim kemarau maupun musim hujan demi menjalankan perintah Allah dan memperoleh pahala yang ada mengenai itu pada musim hujan. Karena sesunggunya acap kali anggot tubuh merasa enak dengan air dingin pada musim kemarau maka orang yang wudlu berlebih dalam menyempurnakan untuk bagian dirinya sendiri maka seyogyang orang yang wudlu ingat terhadap semisal itu dan menyempurnakan demi melaksanakan perintah bukan karena nikmatnya anggota tubuh dengan air dan inilah rahasia perintah pemberi syariat pada kita untuk wudlu agar si hamba berkata pad dirinya sendiri, “Bila ia merasa enak dengan air pada musim kemarau dan mengklaim ia tulus pada waktu itu ini hanyalah demi kempentingan dirimu dengan bukti kamu berpaling dari menyempurnakan wudlu pada musim hujan. Karena sekiranya penyempurnaanmu terhadap wudlu pada musim kemarau demi melaksanakan perintah Allah tentu kamu pun menyempurnakan itu pada musim hujan. Ia termasuk bab apalagi karena sesungguhnya pahala yang dijanjikan padamu lebih besar dan hal ini berlaku beserta hamba dalam mayoritas perintah syara’. Lalu itu dilakukan si hamba dengan hukum kebiasaan serta lalai dari melaksanakan perintah dan tinjauan pemberi syariat maka mayoritas tujuan yang disyariatkannya ketaatan itu luput darinya yaitu bahagia dengan duduk bersama pemberi syariat dalam melaksanakan aneka titahNya dan menjauhi laranganNya. Maka yang hendak mengamalkan janji ni perlu pada guru yang memberi nasihat yang membimbingnya untuk mengikhlaskan (memurnikan) amal karena Allah dari tujuan nafsu. “Allah maha tahu lagi maha bijaksana.”

Dalam sebagian jalur hadis jibril pada pertanyaannya mengenai iman dan islam dalam jalur selain sahihain: “Kamu mandi dari junub dan menyempurnakan wudlu.” Hadis. H.R Ibn Khuzaimah dalam sahihnya dengan redaksi ini.

Syaikhani meriwayatkan: “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat dipanggil dengan غر محجلين karena bekas wudlu siapa diantaramu yang mampun memperpanjang غرةnya maka lakukanlah.”

Al Hafidz Abdul Adzim al Mundziri mengatakan: “Katanya ungkapannya ‘barangsiapa yang mampu dst.’ Bukan dari perkataan nabi ia hanyalah sisipan dari ungkapan Abu Hurairah yang mauquf padanya ia disebutkan oleh lebihd ari satu Hafidz.

Ibn Khuzaimah dalam sahihnya meriwayatkan: “Sesungguhnya hiasan sampai pada mukmi ke tempat-tempat bersucinya.” Dalam satu riwayat: “Hiasan sampai pada mukmin dimana wudlunya sampai.” Hiasan: yang dipakai perhiasaan oleh penghuni surga seperti أساور dan semacamnya. Bila Abu Hurairah berwudlu ia memperpanjang pada tangannya hingga sampai pada ketiaknya.

Ibn Majah dan Ibn Hiban dalam sahihnya meriwahatkan bahwa mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana anda mengenal umatmu dari mereka yang tidak melihatmu?” beliau: “Sesungguhnya mereka datang pada hari kiamat dalam kondisi غرا محجلين بلقا dari bekas wudlu.”

Imam Ahmad mereiwayatkan dengan sanda baik dalam al Mubaya’at: “Bahwa seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah saw. bagaimana anda mengenal umatmu diantara umat-umat antara Nuh hingga Umatmu? Beliau menjawab: “Mereka غرمحجلين karena bekas wudlu yang itu tidak ada bagi seorangpun selain mereka.” Beliau mengatakan: “dan saya mengenal mereka bahwa mereka membawa kitab mereka dengan tangan kanannya dan berajalan sambil dihadapannya ada cahaya.”

Muslim dan Malik meriwayatkan: “Bila seorang hamba muslim atau mukmin berwudlu lalu ia membasuh mukanya maka setiap kesalahan yang dipandang oleh matanya keluar dari mukanya bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Bila ia membasuh kedua tangannya semua kesalahan yang dilakukan kedua tangannya keluar bersama air atau bersama tetesan air yang terakhir. Bila membasuh kedua kakinya kesalahan keduanya dan setiap kesalahan yang ditempuh kedua kakinya keluar bersama air dan bersama tetesan air yang terakhir hingga ia keluar dalam kondisi bersih dari dosa-dosanya.” Dalam satu riwayat Muslim dan yang lainnya: “Barang siapa yang berwudlu lalu ia memperbagus wudlu maka aneka kesalahannya keluar dari jasadnya hingga ia keluar dari bawah kuku-kukunya.”

Dalam riwayat Hakim dengan sanad berdasarkan syarat Guruain: “Tidaklah seorangpun berwudlu lalu ia memperbagus wudlunya melainkan Allah mengampunkan untuknya (dosa) yang diantaranya dan antara salat lainnya hingga ia melaksanakan salatnya.”

Al Bazar dengan sanad hasan meriwayatkan bahwa Usman r.a. menyempurnakan wudlu dalam kondisi sangat dingin dan berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seorang hamba menyempurnakan wudlu melainkan dosa yang lalu dan dan terakhir diampuni.””

Abu Ya’la, al Bazar, dan al Hakim meriwayatkan, dan ia mengatakan bersanad sahih berdasarkan syarat Muslim: “Menyempurnakan wudlu pada saat tidak disenangi, aktivitas melangkah ke masjid, dan menunggu salat setelah salat benar-benar membasuh aneka kesalahan.”

Ath Thabrani meriwayatkan: “Barang siapa yang menyempurnakan wudlu pada saat dingin sekali maka baginya dua pikulan pahala.” Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan: “Barang siapa yang berwudlu tiga kali-tiga kali lalu maka itulah wudluku, dan wudlu para nabi sebelumku.” Allah SWT. lebih tahu.

12.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita memelihara kekontinyuan wudlu dan memperbaharuinya agar kita berada dalam keadaan siap menerima kehadiran ilahi. Karena bila kamu membenarkanNya swt. diatas hamba-hambaNya kamu tidak akan terputus baik siang maupun malam. Dan barang siapa yang Allah SWT. tersingkap dari pandangannya ia mendapati dirinya duduk dihadapan Allah azza wa jalla secara terus menerus. Inilah hal yang mengerjakannya ditekankan pada para ulama yang besar dan para salihin karena sesungguhnya mayoritas kehadiran ilahi baik pada ilmu lahir maupun ilmu batin itu turun pada mereka. Hal itu telah dilupakan oleh mayoritas dari mareka. Diantara para wali masa kini yang saya pandang ada pada posisi ini adalah Guru Muhamad Anan, Guru Daud, Guru Muhamad Adl, danatara pembesar negera di pemerintahan Mesir adalah Muhyidin bin Abu al Ashbag dan orang tuanya Amir Yusuf, diantara missionaris Abdul Qadir az Zarmaki, diantara pedagang Jalaludin bin Faqusah, diantara ulama saudaraku hamba yang salih Syamsudin asy Syarbini dan sahabatnya Syaih Salih as Samli, diantara kelompok wali haji Ahmad al Qowas sampai-sampai ia mendengar suara seseorang tidur mengeluarkan bau tak sedap di masjid maka ia melarang tidur di masjid karena takut darinya keluar yang tak sedap pada saat tidurnya. Bila ini ada dari para pejabat dan pembantu wali maka ulama dan salihin lebih pantas memelihara kesucian.

Saya lihat tuanku Muhamad bin Anan, bila ia di WC dan air wudlu lambat karenya maka ia memukulkan tangannya pada dinding dan bertayamum hingga ia tidak diam dalam kondisi tidak suci sekalipun tidak boleh solat dengan tayamum itu.

Saya melihat Guru Tajudin adz Dzakir yang disemayamkan di langgarnya di Harah Hamam ad Daud di Mesir setiap kali ia sembahyang satu sembahyang dengan wudlunya ia memperbaharui wudlu dan ia tidak masuk WC kecuali dari jum’at ke jum’at dan sesisanya seminggu penuh dalam keadaan suci baik siang maupun malam padahal makand an minumnya seperti biasa orang-orang. Lalu ku bertanya pada sahabat-sahabatnya mengenai itu, maka mereka menjawab: “Setiap hal yang turun pada kerongkongannya terbakar karena kondisi yang panas.”

Tunku Muhamad bin Anan meminimalisir sekali makan hingga ia jarang sekali masuk WC dan ia berkata: “Sesungguhnya salah seorang kita terus duduk dihadapan Allah sekalipun ia tidak merasakan itu. dan misalkan bila sang Raja berkata pada hambanya bersiaplah untuk duduk bersamaku karena aku ingin kamu menyertaiku selama tiga hari maka diantara etikanya ia menyiapkannya untuk itu dengan meminimalisir makan dan minum, bila tidak mesti ia berdiri dari hadapan yang mulia itu untuk buang air kecil dan besar sambil ia terbuka kejelekan (aurat) sedangkan syetan-syetan disekitarnya ia tidak didekati malaikat saat ia duduk di tempat najis dengan rupa yang terjelek dan bau yang terbusuk. Begitu juga sampai pada kita dari Imam Bukhari bahwa ia meminimalisir hingga makannya sampai pada satu kurma atau لوزة pada setiap hari tanpa kemadlaratan. Begitu juga sampai pada kita mengenai Imam Malik bahwa ia maka untuk setiap tiga kali satu kali makan dan ia berkatak saya malu bolak-balik ke WC dihadapan Allah azza wa jalla. Dan saat saudaraku Guru Afdlaludin berhaji, ia ihram haji sendiri dan diam selama lima belas hari tidak buang air besar dan kecil. Ia berkata: “Saya malu pada Allah untuk mengotori tanah yang mulia ini dengan sesuatu dari kotoranku.”

Begitu juga saya lihat saudaraku Guru Abul Abas al Haritsi rhm. ia jarang sekali masuk WC. Maka hai sadaraku ikutilah petunjuk para Guruini. Tuanku Abul Mawahib dar موشح bersenandung:

انت تدري حاضر فى الحضرة # ليت شعرى هل تدري

Saudaraku, kamu perlu pada seorang Guru yang membimbingmu hingga kamu mengenal keagungan Allah, mengenal kadar dihadapannya, dan ahlinya, serta kamu berat meninggalkannya sampai-sampai kamu memandang bahwa dipenggal dengan pedang lebih ringan daripada meninggalkannya. Bila tidak, maka kamu mesti menyepelekannya karena kamu tak mengenal rasanya untuk hadir bersama Allah. Allahlah yang mengurus hidayahmu.

Ibn Majah dengna sanda yang sahih, Hakim (Ia sahih berdasarkan syarat keduanya), dan Ibn Hiban dalam sahihnya meriwayatkan: “Beristiqomahlah dan jangan pernah memperhitungkan amal-amalmu, ketahuilah bahwa amalmu yang terbaik adalah salat, dan tidak memelihara padanya kecuali mukmin.

Saya katakan yaitu yang percaya (mukmin) bahwa ia berada dihadapan Allah secara kontinyu karena keimanan itu beragam di setiap tempa sesuai kadarnya. Bila ‘tak beriman’ datang setelah ungkapan orang yang menginkari kebangkitan umpamanya maka maknanya ia tidak beriman pada kebangkitan, dan bila itu datang dibelakang ungkapan orang yang menginkari hisab maka maknanya ia tidak percaya pada hari penghisaban. Dan seperti inilah dalam hadis: “Yang berzina tidak akan zina saat zina padahal dia itu mukmin.”

Yaitu bahwa Allah melihatnya karena sekiranya ia beriman bahwa Allah melihatnya secara kasyf dan tersaksi saat zina maka ia tak mampu berzina. Ketahuilah tidak mesti dari ketiadaan iman pada sati taklif (tugas) mentiadakan keimanan pada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan sebagainya. Mungkin yang dimaksud adalah menegasikan seluruh sifat keimanan karena seluruh keimana seperti satu bagian yang bila sebagiannya lenyap maka seluruhnya lenyap. Sebagaimana mereka mengatakan mengenai iman pada para rasul bahwa bila tidak beriman pada sebagian rasul maka tak sah keimanan baginya.” Allah SWT. lebih tahu.

Thabrani meriwayatkan: “Peliharalah wudlu dan hati-hatilah dari tanah karena ia ibumu dan sesungguhnya tak seorangpun beramal baik atu jelek melainkan ia memberitahukannya.”

Imam Ahmad dengan sanad yang baik meriwayatkan: “Sekiranya tidak akan memberatkan pada umatku tentu aku akan menyuruh mreka berwudlu pada setiap kali salat.” Yaitu sekalipun mereka tidak berhadas.

Ibn Khuzaimah dalam sahihnya meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hai bilal dengan apa engkau mendahuluiku ke surga? Sungguh tadi pagi aku masuk ke surga lalu ku dengar ketoplakmu di depanku.” Lalul bila berkata: “Wahai Rasulullah, sama sekali tidaklah aku azan melainkan aku salat dua rakaat, dan tidaklah menimpa padaku satu hadas melainkan ku berwudlu saat itu pula.” Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Sebab inilah engkau sampai.” Makna ketoplakmu dihadapanku yaitu aku melihatmu melangka dihadapanku seperti melangkah dihadapan raja dunia. Ia dikatakan Guru Muhyidin dalam al Futuhat al Makiyah. Allah SWT. lebih tahu.

Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majah meriwayatkan: “Barang siapa berwudlu dalam keadaan suci Allah tuliskan baginya sepuluh kebaikan.” Al Hafidz Abdul Adzim rhm. mengatakan: “Adapun hadin yang diriwayatkan: “Wudlu atas wudlu adalah cahaya diatas cahaya.” Maka tidak ada tampak padaku ia memiliki asal dari hadis nabi saw. barangkali ia termasuk ungkapan sebagian salaf.” Allah SWT. lebih tahu.

13.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita teku bersiwak pada setiap kali wudlu. Dan ketika setiap kali salat sekalipun banyak diantara kita yang menggantungkannya pada jahitan pundak kita atau imamah kita, bila ia ada pada عرقية  tanpa peci. Bila ia pada peci dan kita lekatkan pada imamah maka kita رشق nya pada imamah dari telinga kiri. Janji ini telah dirusak oleh sebagian awam dari kalangan pedagang, penguasa dan حاشية mereka maka bau mulut mereka menjadi busuk serta kotor dan dalam hal itu merusak pengagungan pada Allah, para malaikatNya dan kaum mukminin yang salih. Terlebih dari dari selain malaikat dan oran salih. Saya tak melihat yang lebih banyak dan semangat terhadap siwak dari tuanku Muhamad bin Anan, tuanku Syihabudin bin Daud, dan Guru Yusuf al Harisi rhm. semua tiu karena kuatnya keimanan dan pengagungan pada perintah Allah azza wa jalla, dan perintah rasulNya saw. terlebih beliau saw. telah menekankan hal itu, tak cukup dengan semata melakukan perintahnya sekali. Tapi hai saudarku tekunlah pada sunah Muhamad agar kamu memetik buah pahalanya di akhirat karena setiap sunat yang ditradisikan oleh Rasulullah saw. memiliki derajat di surga yang tak tercapai kecuali dengan melakukan sunah itu. متهور yang mengatakan, “sunah ini boleh kita tinggalkan,” padahari kiamat dikatakan padanya, “Ini derajat yang kamu boleh terhalang darinya.” Itu dijelaskan oleh Imam Abul Qasim bin Qasi dalam tulisan yang berjudul “Khal’un Na’lain”.

Sampai pada kita dari Asy Syibli rhm. bahwa ia perlu siwak saat wudlu tapi ia tidak menemukannya maka mengenainya ia mengorbankan sekitar satu dinar hingga ia dapat bersiwak dan tak meninggalkannya dalam satu wudlupun.lalu ia meminta sebagian orang banyak mengorbankan harta itu dalam siwak. Ia berkata: “Sesungguhnya semua dunia bagi Allah tak sebanding dengan sayap seranggapun. Lalu apa jawabanku bila Dia bertanya padaku, “Mengapa kamu meninggalkan sunah nabiku dan kamu tidak mengorbankan sayap serangga yang dikhususkan Allah padamu demi memperolehnya, lalu ia melemahkannya dan berlalu.” Dan saya mengira kamu hai saudaraku, sekiranya kamu dipinta oleh pemilik siwak setengah sehingga ia memberikannya padamu pasti kamu membiarkan siwak dan memilih setengah. Padahal beserta itu kamu menduga bahwa kamu termasuk kekasih Allah dan termasuk mereka yang dekat pada Rasulullah saw. demi Allah ia klaim yang sama sekali tak berdasar.”

Yang diambil manfaat darinya akan tiba dalam beberapa hadis bahwa amal yang sedikit disertai etika lebih baik daripada banyak amal tanpa etika.

Tuanku Ibrahim ad Dasuki r.a. pernah berkata pada para pembaca alqur’an: “Hati-hati gibah dan berkata dengan perkataan yang keji kemudian kamu membaca alqur’an karena hukum hal tersebut (sama seperti) hukumnya merabakan lafadz-lafadz alqur’an pada kotoran dan tak diragukan kufurnya. Dan hal ini telah menyulurh pada umumnya para pembaca alqur’an karena hampir tak selamat darinya kecuali sedikit sekali sampai-sampai Fudlail bin ‘Iyadl danSufian ats Tsauri mengatakan: “Pada saat ini para pembaca alqur’an يتفكه dengan gosip, dan menjelekan satu sama lainnya karena takut keadaan rekan-rekannya mengungguli mereka, padahal mereka populer dengan ilmu, zuhud, wara’ selain mereka. Dan sebagian mereka menjadikannya seperti الإدام dalam makanan dan itu dosa yang paling rendahnya.”

Saya melihat seseorang yang bertetangga membaca setiap hari satu kali khatam dan beserta itu ia hampir tak pernah menyebutkan kebaikan pada kaum muslimin ia hanya menggosip dan ازدراء lalu ku melarangnya dari hal itu maka ia meninggalkan mereka dan sibuk menggosipkanku. La haula wa la quwwata illa billahil aliyil adzim. Hai saudaraku agungkanlah sunah nabimu dan mohonlah ampun pada Allah karena merendahkannya sebab meninggalkannya karena bila kamu terang-terangan merendahkannya kamu kafir. Sedangkan bagi Allah SWT. hukum batin dalam hal itu seperti hukum lahir. “Allah maha pengampun maha penyayang.”

Bukhari lafadz untuknya dan yang lainnya meriwayatkan: “Sekiranya tidak memberatkan umatku tentu ku perintahkan mereka bersiwak beserta setiap kali salat.” Dalam riwayat Muslim: “Pada saat setiap kali salat.”

riwayat Nasai, Ibn Majah, dan Ibn Hiban dalam sahihnya: “Tentu ku perintahkan mereka bersiwak serta wudlu pada setiap kali salat.”

Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang bagus, al Bazar, dan Thabrani: “Tentu ku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kali salat ketika mereka berwudlu.”

Dalam riwayat Abu Ya’la dan yang lainnya: “Tentu kufardlukan atas mereka bersiwak pada setiap kali salat seperti saya fardlukan wudlu atasmu.”

Abu Ya’la meriwayatkan dari Aisyah, ia mengatakan: “Nabi saw. selalu mengingatkan siwak hingga saya khawatir turun qur’an mengenainya.”

Nasai, Ibn Khuzaimah, Ibn Hiban dalam sahihnya dan yang lainnya meriwayatkan: “Siwak membersihkan mulut, diridlai tuhan.” Thabrani menambahkan: “dan memperterang penglihatan.”

Tirmidzi meriwayat dan ia mengatakan hasan gharib: “Empat yang termasuk sunah para rasul: “Bercela, memakai wewangian, bersiwak, dan nikah.”

Muslim meriwayatkan dari Aisyah, ia mengatakan: “Hal yang paling pertama Rasulullah saw. mulai bila masuk rumahnya adalah bersiwak.”

Thabrani meriwayatkan: “Rasulullah saw. tidak keluar rumahnya untuk satupun salat melainkan hingga beliau bersiwak.”

Ibn Majah, dan Nasai meriwayatkan sedangkan para rawinya terpercaya dari Ibn Abas, ia mengatakan: “Rasulullah saw. salat malam dua rakaat lalu ia pulang lalu bersiwak.”

Abu Ya’la meriwayatkan: “Ku diperintah bersiwak hingga ku menduga bahwa qur’an atau wahyu akan turun mengenainya.” Dalam riwayatk Imam Ahmad dan yang lainnya: “Hingga saya khawatir ia diwajibkan atasku.” Dalam riwayat Thabrani: “Jibril senantiasa berwasiat siwak padaku hingga saya taku pada gerahamku.” Dalam satu riwayat untuknya: “Hingga saya khawatir gigiku tanggal.”

Al Bazar dengan sanad yang baik meriwayatkan : “Sesungguhnya bila hamba bersiwak kemudian ia melaksanakan salat malaikan berdiri dibelakangnya lalu mendengarkan bacaannya, ia mendekatinya hingga ia meletakan mulutnya pada mulutnya. Tidaklah keluar dari mulutnya sesuatu dari alqur’an melainkan ia menjadi di kerongkongan malaikat. Maka bersihkanlah mulutmu untuk al Qur’an. Al Hafidz al Mundziri dan al Asybah mengatkan: “Sesungguhnya ini mauquf. Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanad yang baik seperti dikatakan al Mundziri: “Sungguh ku salat dua rakaat dengan siwak lebih aku sukai dari aku salat tujuh puluh rakaat tanpa siwak.”

Dalam riwayat lain dengan sanad yang baik:  “Dua rakaat dengan siwak lebih baik dari tujuh puluh rakaat tanpa siwak.” Hadi-hadi mengenai itu banyak sekali. Allah SWT. lebih tahu.

14.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita menyela-nyela dua tangan dan kaki dengan air setiap kali bersuci demi memperhatikan perintah pembawa syariat saw. dan (agar) kita tidak meninggalkan pekerjaan itu dalam satu wudlu dan mandipun. Perjanjian ini telah dirusak oleh mayoritas ahli ibadah dan mereka yang awam. Maka mesti menyiarkan itu diantara mereka pada saat-saat wudlu mereka di tempat bersuci. Agar pelaku hal itu menjadi dianggap termasuk utusan-utusan Rasulullah saw. karena beliau saw. mencintai orang yang menyampaikan sunahnya yang اندرست  kepada umatnya yang tidak tahu. Dan barang siapa yang dicintai oleh beliau saw. ia berkumpul (dibangkitkan) bersama beliau berdasarkan sabada beliau saw.: “Seseorang dikumpulkan bersama yang ia cintai.”

Dan yang berkumpul bersama nabi saw. tak akan ditemui bencana (كرب) dalam satu tempatpun pada hari kiamat.

Allah SWT. telah menyinari hati Sultan Hasan karena ia menjadikan profesi dalam catatan waqaf sekolah di Ramilah, Mesir bagi yang berdiri pada waktu-waktu salat lima waktu diatas tempat bersuci untuk mengejari orang-orang perintah pembawa syariat yang mereka luputkan dalam wudlunya di sekolahnya. Maka sela-selalah jari jemarimu hai saudaraku dan sampaikanlah itu pada yang orang yang tidak mengetahuinya. Semoga Allah membimbing hidayahmu.

Thabrani meriwayatkan: “حبذا mereka yang menyela-nyela dari umatku,” mereka bertanya: “Siapa mereka yang menyela-nyela wahai Rasulullah?” beliau: “Mereka yang menyela-nyela dalam wudlu dan menyela-nyela dari makanan.” Menyela-nyela dalam wudlu adalah berkumur, istinsyaq dan antara jari jemari. Hadis.

Thabrani meriwayatkan hadis marfu dan mauquf dan ia mirip: “Sela-selalah karena ia kebersihan. Kebersihan menyeru pada keimanan dan keimanan bersama pemiliknya di surga.”

Thabrani meriwayatkan: “Barang siapa tidak menyela-nyela jari jemarinya dengan air ia disela-sela Allah dengan api pada hari kiamat.” Dalam satu riwayat: “Biarkan jari-jarimu dibersihkan air wudlu atau biarkan dibersihkan dengan api neraka.” Dalam satu riwayatnya juga dengan sanad yang baik: “Sela-selalah jari-jemari yang lima agar alah tidak يحشو dengan api neraka. Ungkapan لتنتهكن yaitu anda benar-benar membasuhnya atau api benar-benar membakarnya. النهك : matang (benar-benar) dalam segala hal.

Syaikhani dan yang lainnya meriwayatkan: “Celaka bagi الأعقاب dari api neraka.”

Dalam riwayat Tirmidzi: “Celaka bagi الأعقاب dan perut kaki dari api neraka.”

Imam Ahmad rhm. meriwayatkan bahwa nabi saw. salat satu salat bersama para sahabatnya lalu beliau membaca surat rum padanya lalu beliau keliru sebagiannya. Maka beliau bersabda: “Kita diselirukan syetan terhadap (bacaan) alqur’an hanyalah karena kaum yang mendatangi salat tanpa suci. Maka bila kamu melukan salat maka perbaguslah wudlu.”

Dalams atu riwayat beliau mengulang-ulang satu ayat kemudian berpaling bersabda: “Sesungguhnya satu kaum darimu salat bersama kami tidak memperbagus wudlunya. Barang siapa salat bersama kami maka perbaguslah wudlu.” Allah SWT. lebih tahu.

15.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita menekuni dzikir-dzikir wudlu yang ada dalam sunah dan kita tidak meninggalkannya dalam satu wudlu pun, dan kita mengucapkannya dengan kehadisaran (hati) yang sempurna, serta kita menghadirkan aneka kemaksiatan setiap anggota tubuh saat membasuhnya dan bertaubat darinya beserta basuhan agar batin kita bersih dengan taubat dan lahir kita bersih dengan air. Sebagaimana kebersihan batin tidak mencukupi bagi yang lahir maka begitu juga kebersihan lahir tidak cukup bagi batin. Seperti yang diisyarakan oleh perintah beliau saw. pada yang berwudlu dengan dua syahadat karena air membersihkan lahir dan dua syahadat membersihkan batin. Seolah-olah yang berwudlu itu baru masuk islam dan bertaubat dari dosa-dosanya sebagaimana yang masuk islam taubat dari dosa kekafirannya. Fahamilah.

Muslim, abu dau, dan ibn majah meriwayat: “Tidaklah salah seorang darimu berwudlu, lalu ia menyempurnakan wudlunya kemudian mengucapkan: أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله melainkan dibukakan untuknya pintu surga yang delapan, ia dapat masuk dari mana saja ia mau.

Dalam riwayat Abu Daud menambahkan: “Kemudian mengangkat matanya ke langit, kemudian berdoa,” lalu menuturkan itu, dan dalam riwayatnya juga setelah ungkapannya ورسوله menambahkan: اللهم اجعلنى من التوابين واجعلنى من المتطهرين”. Hadis

Hadis-hadis mengenai zikir anggota wudlu dan setelah wudlu tercatat dalam berbagai kitab fikih. Allah SWT. lebih tahu.

16.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita menekuni (membiasakan) pada dua rakaat setelah setiap wudlu dengan syarat di dalamnya diri kita tidak membicarakan sesuatupun dari urusan dunia atau sesuatu yang tidak disyariatkan pada kita dalam salat. Dan orang yang hendak mengamalkan perjanjian ini butuh pada seorang Guru yang membimbimbingnya hingga siratan-siratan yang menyibukan dari bercakap dengan Allah terhenti darinya.

Ketahuilah bahwa sirata jiwa yang dicela bukanlah pandangan hati apda seseuatu dari semesta seperti yang diselirukan oleh sebagian mereka karena ia tidak ada dalam kuasa manusia untuk memejamkan mata hatinya dari menyaksikan bahwa ia berada berada di tempat yang dekat atau yang jauh dari tamn, yan berkumpul atau selain itu. karena dalam hadis sahih bahwa beliau saw. bersabda: “Saya melihat surga dan neraka di tempatku ini.”

Dan itu ada dalam salat gerhana matahari. Sekiranya itu tercela ada dalam salat yang sempurna tentu itu tidak terjadi pada beliau saw., Sebagian mereka memungkinkan yang yang terjadi pada beliau saw. adalah maksud pensyariatan pada umatnya yang jauh.

Sedangkan menyiapkan tentara pada saat salat yang dikutip dari Umar bin Khatab r.a. maka itu karena kesempurnaannya keran yang sempurna tak terlalaikan dari Allah oleh faktor yang melalaikan disamping bahwa hal itu ada dalam yang diridlai Allah azza wa jAllah.

Hai saudaraku tempuhlah berdasarkan tangan Guru yang memberi nasihat yang menyibukan kamu pada Allah SWT. hingga siratan jiwa dalam salalt terhenti darimu seperti ungkapanmu saya akan أروح untuk ini, melakukan seperti itu, mengatakan itu, atau semacamnya. Bila tidak maka siratan hati dalam salat menetapimu dan hampi kamu dalam satu salatpun tak selamat darinya baik fardlu maupun sunat. Ketahuilah itu. hindarilah kamu sampai pada hal itu tanpa Guru seperti yang dipegang oleh sekelompok penghujat tanpa ilmu. Karena itu selamanya tak sah bagimu. Satu hari al Junaid berkata pada asy Syibli sedan ia seorang murid: “Hai Abu Bakar bila dalam hatimu terbetik selain Allah dari jum’at ke jum’at maka kamu jangan datangi kami karena satu hal pun tak datang darimu.”

Saya katakan yang dimaksud ‘selain Allah azza wa jalla’ adalah aneka kedurhakaan yang tidak diridlai bila tidak maka kehadiran aneka pada hati menurut ijma’ tak aib bagi si salik. “Allah membimbing yang ia kehendaki pada jalan yang lurus.”

Syaikhani meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bertanya pada bilal: “Hai Bilal ceritakan padaku amal yang paling memberi harapan yang kamu amalkan dalam islam, karena aku mendengar الدُق (ketoplak) dua sandalmu di surga di hadapanku?” ia menjawab: “Saya tak mengamalkan satu amalanpun yang paling diharapkan menurutku selain bahwa saya tidak bersuci pada satu saatpun bagi siang ataupun malam melainkan dengan bersuci itu saya salat  yang tidak diwajibkan kepadaku untuk salat.”

Kata الدق dengan dlommah huruf dal adalam suara sandal saat berjalan. Maknanya bahwa saya melihatmu melangkah dihadapanku seperti mereka yang melangkah dihadapan raja dan penguasa seperti yang sudah lalu dalam janji menekuni wudlu sekalipun lafadz yang ada berbeda.

Muslim, Abu Daud, Nasai, Ibn Majah, dan Ibn Khuzaimah dalam sahihnya meriwayatkan: “Tidaklah seseorang berwudlu lalu ia memperbagus wudlunya, dan salat dua rakaat dengan hatinya dan wajahnya menghadap melainkan surga wajib baginya.” Dalam riwayat Abu Daud: “Barang siapa berwudlu lalu memperbagus wudlunya kemudian salat dua rakaat yang di dalamnya ia tidak lupa maka dosanya yang telah lalu diampuni.”

Saya katakan: “Kaidah-kaidah syara’ menuntut bahwa lupa dimungkinkan dari hamba dalam salatnya: tapi saat si hamba berlebihan dengan tidak mengosongkan dirinya dari berbagai kesibukan sebelum masuk salat kemudian ia lupa maka baginya cercaan, dan sekiranya dia mengosongkan dirinya kemudian ia lupa maka tak ada cercaan baginya. Allah lebih tahu. Syaikhani dan yang lainnya meriwayatkan: “Barang siapa berwudlu seumpama wudluku ini – yaitu tiga kali tiga kali – kemudian dia salat dua rakaat yang di dalamnya jiwanya tidak berbicara maka Allah ampuni dosanya yang terdahulu.” Dalam riwayat Imam Ahmad: “Kemudian dia salat dua rakaat atau empat.”

Perawi شك hingga akhir hadis. Allah SWT. lebih tahu.

17.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita menekuni adzan untuk setiap salat sekalipun kita mendengar muadzin, dan bila orang-orang perlu pada adzan dengan mengangkat suara maka kita adzan untuk mereka. Tidak pantas kita beralasan malu karena malu dalam semacam ini adala malu tabi’i nafsi, sedangkan dalam melakukan berbagai perintah syariat tidak ada malu. Malu yang dituntut hanyalah agar si hamba meninggalkan yang dilarang allah. Pahamilah ini karena perjanjian ini sudah dilanggar oleh mayoritas orang pemilik tabiat yang kering. Orang banyak berkata padanya: “Adzanlah untuk kami wahai tuanku syaikh.” Lalu ia menjawab: “Saya malu.” Ini bukan udzur, karena sekalipun kamu mesti malu maka malulah karena allah melihatmu dimana ia melarangmu atau kamu tidak ada saat Ia menyuruhmu. Karena ini malu syar’i yang karenanya hamba diberi pahala.

Dan diantara orang terakir yang saya lihat tekun pada sunah yang mulia ini adalah Maulana Syaikhul Islam, Syaikh Nurudin ath Tharabalisi al Hanafi, dan temannya Sayid Syarif al Khuthabi, Syaikh Muhamad bin Anan, Syaikh Abu Bakar al Hadid, Syaikh Muhamad bin Daud dan putranya, syaikh Syihabudin, dan syaikh Yusuf al Haritsi r.a. ketahuilah itu. semoga allah mengurus hidayahmu.

Syaikhani meriwayatkan: “Sekiranya orang tahu (pahala) yang ada dalam panggilan (adzan) dan barisan pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali mereka ber استهم padanya tentu mereka ber استهم. Yaitu اقترعوا dalam riwayat Imam Ahmad: “Sekiranya orang tahu yang ada dalam mengumandangkan adzan tentu mereka akan saling tebas dengan pedang untuknya.”

Malik, Bukhari, Nasai, dan Ibn Majah meriwayatkan bahwa Abu Said al Khudri r.a. berkata pada Abdurahman bin Abu Sha’sha’ah: “Aku melihatmu menyukai kambing dan ladang. Bila kamu berada pada kambingmu atau ladangmu lalu kamu adzan maka tinggikanlah suaramu dengan adzan karena tidaklah mendengar panjang suara muadzin baik jin, manusia, maupun sesuatu melainkan ia menjadi sakis baginya pada hari kiamat.”

Abu Said mengatakan: “Saya mendengarnya dari Rasulullah saw. – yaitu saya mendengar yang saya katakan padamu dengan khitab padaku dari Rasulullah saw. lafadz Ibn Khuzaimah dalam sahihnya ia mengatakan: “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah mendengar suaranya (Muadzin) baik pohon, مدر, pohon, jin, maupun manusia melainkan ia menjadi saksi baginya.”

Dalam riwayat Imam Ahmad: “Muadzin dimohonkan ampun oleh ujung adzannya, dan dimohonkan ampun oleh setia hal yang lembab dan kering yang mendengarnya.”

Dalam riwayat al Bazar: “Dijawab oleh setiap yang lembab dan kering.”

Dalam riwayat Nasai menambahkan: “Baginya semisal pahala orang yang salat bersamanya.”

Al Khuthabi mengatakan: "مدي الشىئ" adalah puncaknya. Artinya bahwa ia memohon kesempurnaan pengampunan Allah bila ia mencukupkan usahanya dalam mengeraskan suara. Maka ia sampai pada puncak pengampunan bila ia sampai puncak saura. Al Hafidz al Mundziri mengatakan: “Pendapat ini disaksikan riwayat ‘ia diampuni dengan suaranya yang panjang. Yaitu dengan kadar panjang suaranya. Al Khuthabi mengatakan: “Dalam bentuk yang lain, ia adalah ungkapan permisalan dan metafor yang menginginkan bahwa tempat dimana suara terhenti yang sekiranya diperkirakan dosa yang ada antar akhirnya (suara) dan tempatnya berada memenuhi jarak itu tentu diampuni Allah. Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan: “Tiga (yang berada) pada كثبان misik pada hari kiamat, lalu ia menyebutkan mereka, dan orang yang memanggil salat lima waktu pada setiap hari dan malam.” Dalam riwayat Thabrani menambahkan: “.. dan ia mencari keridlaan Allah dan yang ada padanya.

Thabrani meriwayatkan: “Muadzin yang tulus seperti syahid yang berlumuran darah bila ia mati tak akan pernah membusuk didalam kuburnya.”

Thabrani meriwayatkan dalam tiga jami’nya: “Bila disatu kampung dikumandangkan adzan maka pada hari itu diamankan allah dari siksanya.”

Dalam satu riwayat: “Kaum manapun yang dipanggil dengan adzan pada waktu subuh melainkan mereka dalam keamanan dari allah hingg sore, dan kaum manapun yang dengan adzan pada sore hari melainkan mereka berada dalam keamanan hingga subuh.”

Ibn Majah, Daruquthni, dan al Hakim (ia mengatakan sahih berdasarkan syarat syaikhain) meriwayatkan: “Barang siapa adzan selama dua belas tahun, wajib baginya surga dan dituliskan untuknya enampuluh kebaikan sebab adzannya setiap hari dan tiga puluh kebaikan sebab setiap iqomah.”

Ibn Majah dan Tirmidzi meriwayatkan: “Barang siapa adzan dengan tulus selama tujuh tahun maka dicatatkan kebebasan dari neraka baginya.”

Allah swt. lebih tahu.

18.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita menjawab muadzin dengan yang ada dalam sunah dan sama sekali tidak mengguraukannya dengan yang lainnya dan selainnya sebagai etika bersama pembawa syariat saw. karena setiap sunah mempunyai waktu yang tertentu, untuk menjawab muadzin ada waktunya, untuk ilmu ada waktunya, untuk tasbih ada waktunya, dan untuk membaca alqur’an ada waktunya seperti halnya tak boleh bagi si hamba menjadikan istigfar di tempat al Fatihah, bacaan pada tempat rukuk dan sujud, yang lainnya ditempat tasyahud, dan begitulah. Janji ini dilanggar oleh mayoritas pencari ilmu, apalagi oleh yang lainnya. Mereka meninggalkan menjawab adzan bahkan acapkali mereka meninggalkan salat berjamaah hingga orang-orang keluar darinya. Mereka menelaah ilmu gramatikan bahasa arab (nahwu), usul fikih, dan mereka berkata: “Ilmu mutlak didahulukan.” Padahal tidak demikian karena sesungguhnya masalahnya terinci. Tidak setiap ilmu didahulukan pada waktu itu atas salat jamaah. Seperti halnya dikenal pada setiap yang mencium wangi tingkatan perintah syariat.

Bila Sayid Ali al Khawash rhm. mendengar muadzin mengucapkan حي على الصلاة ia bergetar, hampir meleleh karena takut allah azza wa jalla, dan ia menjawab muadzin dengan hati yang hadir dan kekhusyuan yang sempurna. Ketahuilah itu dan amalkanlah. Semoga allah mengurus hidayahmu.

Syaikhani dan yang lainnya meriwayatkan: “Bila kamu mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan, kemudian berselawatlah padaku karena yang beresawat padaku sekali allh berselawat padanya sepuluh, kemudian mohonlah pada allah wasilah untukku.” Hadis. Ungakapan beliau: “ucapkanlah” maksudnya dibelakang setiap kata yang diucapkannya karena huruf ‘Fa’nya menunjugkan pada ta’qib, dan dengan itulah sekelompok ulama berpendapat.

Allah swt. lebih tahu.

Imam ahmad dan thabrani meriwayatkan: “Barang siapa saat muadzin (selesai) adzan mengucapkan: اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة النافعة صل على محمد وارض عنارضا لاسخط بعده allah kabulkan doanya.

Abu daud, nasai, dan ibn hiban dalam sahihnya meriwayatkan: “Barang siapa mendengar adzan lalu ia mengucapkan seperti yang ia ucapkan maka baginya seperti pahala dia (muadzin). Dalam satu riwayat: “Barang siapa yang mengucapkan seperti itu bila mendengar adzan maka syafaatku wajib baginya pada hari kiamat.” Allah swt. lebih tahu.

19.  Kita memikul perjanjian umum dari Rasulullah saw. agar kita memohon pada allah swt. apapun yang kita mahu dari aneka kebutuhan dunia dan akhirat baik untuk kita maupun kaum muslimin pada waktu antara adzan dan iqomat salat. Dan kita tidak melewatkan hal itu kecuali karena udzur syari’at. Hal itu karena pada saat itu penghalang antara yang berdo’a dan tuhannya diangkat dengan gambaran kedudukan pintu raja dan izin dibuka untuk masuk bagi para sahabatnya dan pembantunya . maka generasi pertama kebutuhannya cepat dipenuhi karena cepat datangnya dihadapan tuahannya swt. sedangkan generasi terakhir datang serta pengkabulannya lambat padahal allah swt. tak disibukan oleh apapun tapi seperti inilah interaksiNya swt. pada makhlukNya. Dan jelas bahwa yang maha benar swt. mencintai ilhah (terus mendesak) dalam berdoa dari hamba-hambanya karena ia menyerukan kesuliat dan kebutuhan yang sangat. Sedangkan yang tidak ilhah dalam berdo’a maka bahasa perbuatannya (lisanul hal) seolah mengatakan saya tidak perlu pada karunia allah. Dan acapkali allah swt. menyingkap keberadaannya saat ia berdoa maka Dia tak mengabulkannya. Ia terus menedesak dalam berdoa baik siang maupun malam tapi ia tak melihat dampak pengkabulan sampai-sampai hatinya hampir remuk karena sedih seperti sekelompok pedagang atau mereka yang gembira yang tertimpa berbagai bencana lalu kamu melihat mereka membaca berbagai wirid dan memelihara berbagai الإقسامات, serta siang malam ia berdoa pada allah dengan gambaran ia kembali kepada yang sebelumnya, tapi Ia tak mengabulkan mereka.

Hindarilah wahai saudaraku! Kamu menganggap remeh doa pada setiap saat yang dianjurkan oleh yang maha benar swt. untuk berdoa padanya lalu kamu menderti yang padanya tak ada kebaikan. Allh maha tahu maha bijak.

Abu Daud dan yang lainnya meriwayatkan: “Doa diantara adzan dan iqomah.” Nasai, ibn majah, dan ibn hiban dalam sahihnya menambahkan “Maka berdoalah” Tirmidzi menambahkan: “Lalu mereka bertanya, ‘apa yang kami ucapkan wahai rasulullah?” raslullah menjawab: “Keafiatan dunia dan akhirat.”

Al hakim meriwayatkan: “Muadzin adzan maka pintu-pintu langit dibukakan untuknya, dan doa dikabulkan, barang siapa tertimpa bencana atau kesulitan maka hendaknyaia menjawab yang adzan.” Yaitu menunggu dengan doanya hingga muadzin adzan lalu ia menjawabnya, kemudian memohonkan keperluaannya pada allah seperti yang diisyaratkan hadi abu daud, nasai, dan yang lainnya: “Ucapkanlah seperti yang muadzin ucapkan, bila telah selesai mintalah pasti diberi.”

Al baihaqi meriwayatkan: “Bila dikumandangkan panggilan salat syetan lari sambil diiringi kentut hingga ia tak mendengar adzan. Bila selesai adzan ia datang. Bila taswib ia pergi.” Hadis. Yang dimaksud dengan taswib disini adalah Iqomat. Diriwayatkan dari Imam Ahmad: “Bila dikumandangkan iqomat salat, pintu-pintu langit dibuka dan doa dikabulkan.”

Ibn Hiban meriwayatkan dalam sahihnya: “Dua waktu yang tak satupun yang berdo’a ditolak doanya: 1) saat iqomat salat, 2) saat membariskan pasukan di jalan allah.

Allh swt. lebih tahu.

 

20.   

Syaikhani dan yang lainnya meriwayatkan: “Barang siapa membangan satu masjid yang dengannya ia mencari keridlaan allah swt. allah bangunkan untuk satu rumah di surga.”

Dalam riwayat thabrani, al bazar, dan ibn hiban dalam sahihnya sedang lafadznya lafadz al bazar: “Barang siapap membangun satu masjid sebesar