이용할 수 있는 강좌

Atas nama alllah yang maha pengasih yang maha penyayang

Surat Ali Imran

Firmannya: “alif laam miim. Tiada tuah selain Dia yang maha hidup yang maha berdiri sendiri.”

Mengenainya ada lima permasalah:

Firmannya: “alif laam miim. Tiada tuah selain Dia yang maha hidup yang maha berdiri sendiri.” Surat ini berdasarkan ijmak adalah madaniyah. An Naqasy menghikayatkan bahwa dalam taurat namanya Thayibah.

Al hasan,  Amr bn Abi Uabaid, Ashim bin Abi Najud, dan Ja’far Ar Ruasiy membaca: الم الله dengan mengqatha’kan alif washal, dengan memperkirakan waqaf pada الم sebagaimana mereka memperkirakan pada nama-nama bilangan (amaul a’dad) seperti kata واحد, اثنان, ثلاثة، أربعة, mereka mewasalkannya.

Al Akhfasy  sa’id mengatakan: الم الله boleh dengan huruf mim yang dikasrahkan karena bertemunya dua sukun. Az zujaj  mengatakan: “Ini keliru, dan itu tidak diucapkan oleh orang arab karena berat.”

An Nahas mengatakan: “Bacaan yang pertama adalah bacaan yang umum, dan iatu telah dibahas oleh pakar nahwu terdahulu. Mazhab Syibawaih mim difathahkan karena bertemu dua huruf yang berharakat sukun, dan mereka memilih fathah untuknya agar tidak terkumpul antara kasrah, ya dan kasrah sebelumnya.

Al kisa’i mengatakan: “Huruf hija jika bertemu alif wasal, maka alif wasal di buang, serta kamu beri harakat ia (huruf tahaji) dengan harakat alif, lalu kamu ucapkan: المَ الله, المُ اذْكر, المِ اقتربت.

Al fara mengatakan: “Asal الم الله seperti dibaca ar Ruasiy, lalu harakan hamzah diberikan kepada mim.”

Umar bin Khatab membaca الحيّ القيَّام. Kharijah mengatakan: “Dalam mushaf Abdulah "الحي القيِّمُ".

Pendapat ulama mengenai huruf-huruf di awal-awal surat telah dikemukakan dalam permulaan surat Al Baqarah. Dan dari segi ia ada alam surat ini الله لا إله إلا هو الحي القيوم sebagai kalimat yang berdiri sendiri maka kamu gambarkan semua pendapat-pendapat itu.


An Nasai meriwayatkan bahwa Umar bin Khatab r.a. pernah salat Isya, lalu ia membuka surat Ali Imran, lalu ia membaca: الم الله لا إله إلا هو الحي القيوم ia membacanya pada rakaat pertama seratus ayat dan pada rakaat kedua seratus ayat sesisanya.

Ulama kita mengataka: “Satu surat tidak dibaca dalam dua rakaat, tapi bila ia melakukannya maka itu mencukupi baginya.” Malik dalam al Majmu’ah mengatakan: “Tak mengapa, dan ia tidak cacat.”

Saya katakan: “Ya sahih adalah hal itu boleh. Nabi saw. telah pernah membaca surat Al a’raf pada salat magrib, ia membaginya dalam dua rakaat.” Dikeluarkan An Nasai juga, dan disahihkan Abu Muhamad Abdulhaq. Itu akan tiba.

Mengenai keutamaan surat ini ada banyak asar dan akhbar, diantara hal itu yang ada dari hadis bah ia adala keamanan dari ular, simpanan mereka yang papa, dan bahwa ia menjadi hujah bagi pembacanya pada hari kiamat, dan bagi yang membaca penghujungnya pada satu malam ditulis seperti bangun malam, dan lain sebagainya:

Ad darami Abu Muhamad dalam musnadnya menuturkan: “Telah membacakan hadis pada kita Abu Ubaid Alqasim bin Sallam, ia mengatakan: “Telah membacakan hadis padaku Ubaidillah Al Asyja’iy ia mengatakan: “telah membacakan hadis kepadaku Mis’ar, ia mengatakan: “Telah membacakan hadis kepadaku Jabir sebelum terjadi padanya apa yang telah terjadi, dari Asya’biy, ia mengatakan: “abdulah mengatakan: “Simpanan orang miskin yang paling baik adalah surat Ali Imran yang ia laksanakan pada penghujung malam.”

Telah membacakan hadis kepada kita Muhamad bin Sa’id, telah membacakan hadis kepada kita Abdussalam, dari Al Jurairi dari Abu Assalil, ia mengatakan: “Seseorang berdarah, ia berkata: berlindunlah di lembah Majanah: lembah yang disana teka seorangpun berjalan melainkan tersengat ular, dan di pinggir lembah itu ada dua pendeta, lalu pada keesokan harinya salah seorang darinya berkata: “Demi Allah celaka orang itu!.” Lalu ia membuka surat Ali Imran, keduanya berkata: “Lalu ia membaca surat Ath Thayibah agar ia semoga ia selamat, lalu ia berkata: “Ia menjadi yang selamat.

 Makhul menyandarkan seraya berkata: “Siapa yang membaca surat Ali Imran pada hari jum’at maka ia dimohonkan ampun oleh para malaikat sampai dengan malam.”

Dan ia menyandarkan dari Usman bin Afan, ia mengatakan: “Siapa yang membaca penghujung surat Ali Imran pada satu malam maka baginya dituliskan bangun malam.” Dalam jalurnya ada Ibn Lahi’ah.

Muslim mengeluarkan dari An Nuwas bin Sam’an al Kilabiy, ia berkata: “Saya pernah mendengar nabi saw. bersabda: “Pada hari kiamat Alquran dan ahlinya yang mengamalkannya di datangkan, ia disambut surat Al Baqarah dan Ali Imran. – dan untuk keduanya rasulullah saw. membuat tiga permisalan yang tidak akan saya lupakan selamanya, beliau bersabda: “Keduanya seolah dua awan tebal, atau gelap gulita yang diantara ada kilatan, atau keduanya laksana sekumpulan berung yang berbulu yang melindungi dari pemiliki keduanya.”

Ia jua mengeluarkan dari Abu Umamah Albahiliy, ia berkata: “Kumendengar rasulullah saw. bersabda: “Bacalah alquran karena pada hari kiamat datang memberi syafaat kepada sahabatnya, bacalah zahrawain yaitu Albaqarah dan Surat Ali Imran karena keduanya pada hari kiamat datang laksana dua awan tebal, dua naungan, atau dua kelompok buru bersayap yang melindungi dari sahabat-sahabat keduanya, bacalah surat Albaqarah, karena mengambilnya keberkahan, meninggalkannya adalah kerugian, dan tidak akan mempan oleh bathalah.” Muawiyah berkata: “Telah sampai padaku bahwa bathalah adalah sihir.”


Dalam menami surat Albaqarah dan Ali Imran dengan Zahrawain ada tiga pendapat:

Keduanya  bercahaya, diambil dari kata zahrun dan zuhrah, adakalanya karena keduanya menunjukan pembaca dengan berbagai cahaya (makna-makna) keduanya yang bercahaya kepadanya.

Dan ada akalanya karena cahaya yang sempurna pada hari kiamat yang muncul karena membaca keduanya, ini pendapat kedua.

Keduanya dinama dengan itu; karena keduanya berserikat dalam memuat nama allah yang paling agung, seperti yang dituturkan oleh abu daud dan yang lainnya dari Asama bin Yazid bahwa rasulullah saw. bersabda: “Bahwa ismullah ala’dzam ada dalam dua ayat ini: وإلهكم إله وحد لا إله إلا هو الرحمن الرحيم [Q.S Albaqarah: 163], dan yang ada dalam Ali Imran: الله لا إله إلا هو الحي القيوم. Juga dikeluarkan oleh Ibn Majah.

Ghumam adalah awan tebal, ghayayah jika ia dekat dari kepala, zhullah juga. Maknanya: “Bahwa pembaca keduanya ada dalam naungan pahala keduanya, seperti yang ada dalam hadis: “Seseorang ada dalam naungan (pahala) sedekahnya.”

Ungkapan beliau tuhaajjani; yaitu: allah menciptakan yang menjadi pembelanya sebaba pahala keduanya yaitu malaikat, seperti yang ada dalam sebagian hadis bahwa “Siapa yang membaca شهد الله أنه لا إله إلا هو [Q.S Ali Imran: 18], allah menciptakan tujuh puluh malaikat yang memohonkan ampun untuknya hingga hari kiamat.”

Diantara keduanya ada kilat (شرق) dibatasi dengan sukun ra dan fathahny, itu peringatan mengenai sumber cahaya; karena saat beliau bersabda: “Keduanya hitam” terkadang seliru bahwa keduanya menggelapkan, maka itu dinegasikan dengan sabda beliau: “Diantara keduanya ada kilat”. Dan ia memaksudkan dengan keduanya gelap, “Karena keduanya tebal yang sebab keduanya menghalangi antara orang yang ada dibawahnya dan antara panas matahari dan gejolak yang kuat. Allah yang lebih tahu.

 Permulaan surat ini turun sebab utusan Najran dalam hadis yang disebutkan Muhamad bin Ishaq, dari Muhamad bin Ja’far bin Zubair, mereka adalah Orang-orang Nasrani Najran delegasi kepada Rasulullah saw. di Madinah dalam enam puluh orang berkendaraan, diantara mereka adalah pembesar mereka empat belas orang, dalam empat belas orang itu ada tiga kelompok; yang pada merekalah urusan mereka dikembalikan: Al’aqib: pemimpin kaum dan yang memiliki pendapat dari mereka, namanya Abdul Masih, sayid: adalah pembantu mereka dan pemilik perkumpulan mereka, namanya Alaiham, sedangkan Abu Harisah bin Alqamah: Ahad Bakr bin Wail adalah uskup dan cendikiawan mereka, lalu mereka masuk pada rasalullah saw. sebelum salat asar, mereka berpakaian mantel berjubah dan berpakaian urdu. Para sahabat nabi saw. berkata: “Kami tidak pernah melihat delegasi semacam mereka baik mewah dan gagahnya.” Salat mereka tiba, lalu rasul berdiri kemudian salat di Masjid nabi saw. menghadap ke timur, lalu nabi saw. bersabda: “Panggilah mereka.” Kemudian mereka tinggal di sana beberapa hari berdialog bersama rasulullah saw. mengenai Isa, mereka menduga bahwa ia dalah putra allah, dan berbagai pendapan keji serta meragukan lainnya, rasulullah saw. membantah mereka dengan berbagai argumen yang cemerlang yang tidak mereka ketahui, dan mengenai mereka turunlah permulaan surat ini hingga sampai delapan puluh ayat lebih; sampai urusan mereka kembalai kepada mereka diajak rasulullah saw. untuk ibtihal,  sebagaimana yang disebutkan dalam sirah Ibn Ishak dan yang lainnya.

Firmannya: “Dia telah menurunkan Alkitab kepadamu (Muhamad) desarti kebenaran dan membenarkan yang  sebelumnya, menurunkan taurat dan injil, sebelumnya sebagai pedoman untuk manusia, dan menurunkan Alfurqan, sesungguhnya mereka yang kafir terhadap ayat-ayat Allah itu ada azab yang keras bagi mereka, dan Allah maha perkasa serta memiliki siksa. [Q.S Ali Imran: 3-4].

firmanNya: نزّل عليك الكتاب yaitu alquran dengan benar, katanya dengan argumen yang mengalahkan, alquran diturunkan bertahap: sedikit demi sedikit, karena itulah Dia berfirman: نزّل dan tanzil adalaha sedikit demi sedikit. Sedangkan Taurat dan inzil keduanya turun sekaligus; karenai Itulah dia berfirman أنزل.

Lafaz ba dalam firmanNya: "بالحق" berkedudukan sebagai hal dari lafaz الكتاب, lafaz ba berkaitan dengan yang dibuang, perkiraannya: آتيا بالحق. Dan ia tidak berkaitan dengan kata نزّل; karena ia telah menjadi dwitransitif salah satunya dengan huruf jar, ia tidak transitif kepada yang ketiga.

Lafaz مصدّقا adalah hal yang menguatkan yang tidak berpindah, karena ia tidak mungkin menjadi tidak membenarkan, yaitu tidak selaras; ini adalah pendapat mayoritas. Mengenainya diperkirakan berpindah oleh sebagian, berdasarkan makna bahwa ia membenarkan pada dirinya sendiri dan membenarkan pada yang lainnya.

firmanNYa: لما بين يديه maksudnya dari kitab-kitab yang telah diturunkan. Taurat maknanya adalah sumber cahaya dan cahaya; ia diambil dari kata ورى الزند ووري, ia dua dialek: bila apinya keluar. Asalnya adalah taurayah berdasarkan wazan taf’alah, huruf ta penambah, huruf ya berharakat sedangkan sebelumnya fathah maka ia dirubah kepada alif. Dan boleh ia berwazan taf’ilah, lalu ra beralih dari kasrah ke fathah, seperti yang mereka katakan dalam kata جارية: جاراة dan dalam kata ناصية menjadi ناصاة, keduanya dari Alfarra.

Alkhalil mengatakan: “Asalnya adalah فوعلة, maka asalnya: وَوْرَيَة, huruf wau yang pertama dirubah kepada ta, seperti ia dirubah dalam kata تولج, asalnya وولج; wazan فوعل dari kata ولجت, huruf ya dirubah kepada alif karena ia berharakat sedang sebelumnya berharakat fathah. Bentuk wazan فوعلة lebih banyak daripada تفعلة.

Katanya kata Taurah diambil dari kata Tauriyah, yaitu sindiran dengan sesuatu dan menyembunyikan pada yang lainnya; seolah-olah bahwa mayoritas isi taurat adalah sindirin dan isyarat tanpa penerangan dan penjelasan, ini adalah pendapat Almuarrij. Mayoritas kepada pendapat yang pertama berdasarkan firman-Nya: “dan kami telah memberikan pembeda (furqan), sumber cahaya, dan peringatan bagi mereka yang bertakwa kepada Musa dan Harun,” [Q.S Alanbiya: 48]. Ia memaksudkan Taurat.

Kata injil berwajan إفعيل dari kata النجل (yaitu asal), dipluralkan kepada kata أناجيل, sedangkan kata taurat dipluralkan kepada توار; asalnya injil untuk berbagai ilmu dan hikmah. Dan dikatakan: لعن الله ناجليه, maksudnya والديه, karena keduanya merupakan asalnya. Katanya ia dari kata نجلتُ الشيء: jika kamu mengeluarkannya; maka injil adalah sebab keluarnya berbagai ilmu dan hikmah, dan karenanyalah anak dan keturunan disebut sebagai نجل karena ia keluar; sebagaimana dikatakan: 

إلى معشر لم يورث اللؤم جدّهم أصاغرهم وكل فحل لهم نجل

“Teruntuk saudara yang nenek moyangnya tidak mewariskan cercaan dan setiap pujangga kenamaan punya keturunan.”

Kata النجل adalah air yang keluar dari yang bocor (rembesan). استنجلت الأرض وبها نجال jika darinya keluar air, injil dinamai dengannya; karena allah swt. Mengeluarkan pelajaran dari kebenaran yang mencukupi darinya. Katanya ia dari kata النَّجَل فى العين dengan diberi harakat pada huruf jim, ia merupakan kelapangannya, luka tusukan yang luas [طعنة نجلاء], dikatakan:

ربما ضربة بسيف صقيل ۞ بين بصرى وطعنة نجلاء

“acapkali tebasan pedang mengkilat adalah antara kilatan dan luka yang lebar.”

Injil dinamai dengan itu; karena ia dalah asal yang dikeluarkan untuk mereka dan dilapangkan cahaya dan sumber cahayanya bagi mereka.

Katanya ia dari kata tanajul yaitu tanaju’; itu dinamakan injil karena diperselisihkan orang-orang. Syamir menghikayatkan dari sebagian mereka: “Injil adalah setiap tulisan yang ditulis memenuhi lembaran. Katanya نجل adalah عمل وصنع; dikatakan:

وأنجل فى ذاك الصنيع كما نجل

“Mengenai itu di lakukan dan dibuat oleh sang pencipta sebagaiman ia dibuat.”

Katanya taurat dan injil dari bahasa suryani. Katanya kata Injil dengan bahasa suryani Anglo; dihikayatkan Atsa’labi.

Aljauhari mengatakan: “Injil adalah kitab Nabi Isa a.s. bisa muzakar bisa muanas, yang memuanaskan ia memaksud lembaran, dan yang memuzakarkan ia memaksud kitab.”

Yang lainnya mengatakan: “Terkadang Alquran disebut injil juga, seperti yang diriwayatkan dalam kisah curhat Musa a.s. bahwa ia berdoa: “Ya tuhanku, aku melihat dalam bilah-bilah itu kaum-kaum yang injilnya dalam hati mereka, jadikanlah mereka umatku,” allah swt. Berfirman kepadanya: “Itu adalah umat Muhamad saw.” dengan kata anajil ia memaksudkan Alquran.

Alhasan membacanya والأَنجيل dengan memfathahkan huruf hamzah, sedangkan yang lainnya dengan kasrah, seperti kata الإكليل ada dua dialek. Dimungkinkan jika ia terdengar dari kata yang diarabkan oleh orang arab dari nama-nama non-arab, dan dalam ungkapannya tidak ada misalnya.

firmanNya: من قبلُ maksudnya sebelum alquran "هدى للناس" Ibn Furak mengatakan: “Perkiraannya هدى للناس المتقين.” Dalilnya dalam Albaqarah: "هدى للمتقين" keumuman ini dikembalikan kepada kekhususan itu. Kata هدى berada dalam posisi nasab karena sebagai hal. Sedangkan kata الفرقان adalah Alquran. Itu telah dikemukakan.

Firmannya: إن الله لا يخفى عليه شئ فى الأرض ولا فى السماء [Q.S Ali Imran: 5].

Ini adalah berita mengenai tahunya Allah swt. Kepada berbagai hal secara rinci, semisalnya dalam alquran sangat banyak. Maka Dia tahu pada hal yang telah, akan dan belum ada, maka bagaimana mungkin Isa adalah tuhan atau anak tuhan sedankan banyak hal yang tersembunyi darinya?!

firmanNya: هو الذى يصوركم فى الأرحام كيف يشاء لا إله إلا هو العزيز الحكيم 

“Dialah yang membentukmu dalam rahim sebagaimana Ia kehendaki, tiada tuhan selain dia yang maha perkasa lagi maha bijaksana.”

[Q.S Ali Imran: 6]

Mengenainya ada dua masalah:

firmanNya: “Dialah yang membentukmu”. Dia yang maha tinggi mengabarkan tentang pembentukannya kepada manusia dalam rahim para ibu.

Asal kata rahim dari kata rahmah; karena ia adalah yang sebabnya disayangi. Pengambilan kata صورة dari kata صاره إلى كذا: jika ia mencenderungkannya, maka shurah adalah kecenderungan kepada kemiripan dan bentuk.

Ayat ini adalah pengagungan kepada Allah swt., dan dalam kandungannya ada bantahan kepada Nasrani Najran, dan bahwa Isa termasuk mereka yang dibentuk, dan itu termasuk yang tak dapat diinkari oleh yang berakal.

Dia swt. Menunjukan penjelasan pembentukan dalam surat Alhaj dan Almukminun.

Begitu juga ia dijelaskan oleh nabi saw. dalam hadis Ibn Mas’ud, berdasarkan penjelasan yang insya Allah akan ada di sana.

Di dalamnya juga ada bantahan kepada kaum naturalis (filsuf Alam), karena mereka menjadikannya (pelaku) pelaku yang bebas. Dan bantahan kepada mereka telah dikemukakan dalam ayat tauhid.

Dan dalam musnad Ibn Sinjar – namanya adalah Muhamad bin Sinjar – ada hadis: “Sesungguhnya Allah swt. Menciptakan tulah janin dan tulang-tulang rawan dari sperma laki-laki, sedangkan lemak dan dagingnya dari sperma wanita.”

Dalam hadis ini ada dalil yang sangat menunjukan kepada bahwa anak tercipta dari sperma laki-laki dan perempuan, dan ini penjelasan firmanNya: “Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakanmu dari laki-laki dan perempuan.” [Q.S Alhujurat” 13].

Dalam sahih Muslim dari hadis Tsauban dan di dalamnya ada: “Bahwa Yahudi berkata kepada nabi: “Aku datang kepadamu hendak menanyakan sesuatu yang tidak diketahui penduduk bumi kecuali ia nabi, atau seseorang, atau dua orang.” Beliau: “Apakah berguna bagimu bila kuceritakan kepadamu?” ia: “Aku dengar dengan telingaku.” Ia berkata: “Aku datang kepadamu menanyakan tentang anak;” nabi saw. menjawab: “Sperma laki-laki putih, sedangkan sperma wanita kuning, jika keduanya berkumpul lalu sperma laki-laki mengungguli sperma perempuan dengan izin allah swt. Ia menjadi laki-laki, dan bila sperma perempuan mengungguli sperma laki-laki maka dengan izin allah ia menjadi perempuan.” Hadis. Penjelasannya insya Allah akan tiba pada akhir surat Asysyura.


firmanNYa: "كيف يشاء" maksudnya cakep dan buruk, hitam dan putih, tinggi dan pendek, selamat dan cacat, dan lain sebagainnya dari kecelakaan dan kebahagiaan.

Disebutkan dari Ibrahim bin Adham bahwa para qari berkumpul padanya untuk mendengar hadis-hadis yang ada padanya, lalu ia berkata kepada mereka: “Akau sibuk dari kamu semua sebab empat hal, maka aku tidak punya luang untuk meriwayatkan hadis,” lalu ditanyakan kepadanya: “Apa kesibukan itu?” ia menjawab:

Aku memikirkan tentang hari perjanjian (yaumil mitsaq) dimana beliau bersabda: “Mereka di surga aku tidak peduli, dan mereka di neraka aku tidak peduli.” Aku tidak tahu termasuk kelompok yang mana aku pada waktu itu.

Dimana aku dibentuk dalam rahim, lalu malaikat yang ditugaskan jadi wakil pada rahim berkata: “Wahai tuhan, celaka atau bahagia dia?” aku tidak tahu apa jawaban malaikat pada waktu itu.

Saat malaikat maut menggemgam ruhku lalu ia berkata: “Wahai tuhanku, apakai beserta yang kafir atau yang iman?” aku tidak tahu bagiamana jawaban yang akan keluar.

Dimana Dia berfirman: “Dan pada hari ini mereka dipisahkan hai para pendurhaka.” [Q.S Yasin: 59] maka aku tidak tahu aku ada pada kelempok yang mana?

Kemudian Dia swt. Berfirman: “Tiada tuha selain dia” yaitu tidak ada pencipta dan pembentuk kecual dia, itu dalil kepada keesaannya, bagaimana Isa menjadi Tuhan yang membentuk sedangkan ia dibentuk?!

“Yang maha perkasa” yang tak terkalahkan. “Yang maha bijak” yang memiliki hikmah atau yang menghukumi, ini lebih khusus dari pembentukan yang disebutkan.

Firmannya:

هو الذى أنزل عليك الكتاب منه ءايات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين فى قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله والرسخون فى العلم يقولون ءامنا به كل من عند ربنا وما يذكر إلا أولوا الألباب [ٍآل عمران: 7].

“Dialah yang telah menurunkan Alquran kepadamu. Di antara hikmah-Nya, sebagian ayat Alquran muhkamat: jelas arti dan maksudnya, dan yang lain mutasyabihat: sulit ditangkap maknanya oleh kebanyakan orang, samar bagi orang-orang yang belum mendalam ilmunya. Ayat-ayat mutasyabihat itu diturunkan untuk memotivasi para ulama agar giat melakukan studi, menalar, berpikir, teliti dalam berijtihad dan menangkap pesan-pesan agama. Orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menebar fitnah dan untuk menakwilkan sesuka hati mereka. Takwil yang benar dari ayat-ayat tersebut tak dapat diketahui kecuali oleh Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata, “Kami meyakini itu datangnya dari allah. Kami tidak membedakan keyakinan kepada alquran antara yang muhkam dan mutasyabih.” Tidak ada yang mengerti itu semua kecuali orang-orang yang memiliki akal sehat yang tidak mengikuti hawa nafsu.”

Mengenainya ada sembilan permasalahan:

Muslim mengelaurkan dari Aisyah r.a., ia mengatakan: “Rasulullah saw. membaca: 

 هو الذى أنزل عليك الكتاب منه ءايات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين فى قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله والرسخون فى العلم يقولون ءامنا به كل من عند ربنا وما يذكر إلا أولوا الألباب [ٍآل عمران: 7]

ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda: “Jika kamu melihat mereka yang mengikuti yang samar, maka merekalah yang disebutkan allah, jauhilah mereka.”

Abu Galib mengatakan, “Aku pernah berjalan bersama Abu Umamah sedangkan dia diatas keledainya, sampai bila telah sampai pada tangga masjid Damaskus; tiba-tiba ada kepala-kepala yang dietagakan, lalu ia bertanya: “Apa kepala-kepala ini?” dijawab: “Ini kepala-kepala kaum Khawarij dibawa dari Irak,” Abu Umamah berkata: “Anjing neraka, anjing neraka, pembunuh terjelek di bawah langit, sungguh bahagia bagi yang membunuh mereka atau mereka bunuh – ia mengatakannya tiga kali – kemudian ia menangis.” Aku bertanya: “Apa yang membuatmu menangis hai Abu Umamah?” ia menjawab: “Karena kasih sayang kepada mereka, mereka adalah ahli islam, lalu mereka keluar darinya.” Kemudian ia membaca: “Dialah yang telah menurunkan Alquran kepadamu. Di antara hikmah-Nya, sebagian ayat Alquran muhkamat” sampai dengan akhir ayat. Kemudian ia membaca: “Dan jangan seperti mereka yang bercerai berai dan berselisih seteh datang berbagai penjelasan kepada mereka.” [Q.S Ali Imran: 105]. Lalu aku bertanya: “Hai Abu Umamah, apakah itu mereka?” ia menjawab: “Ya.” Saya bertanya, “Apakah itu sesuatu yang kamu katakan berdasarkan akalmu atau berdasarkan sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah saw.?” lau ia menjawab: “Jika demikan alangkah berani aku, jika demikian alangkah berani aku, (bukan) tap aku mendengarnya dari rasulullah saw. bukan satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, enam kali, dan tujuh kali,” ia meletakan dua jarinyapada dua telinganya, seraya berkata: “Dan jika tidak maka keduanya tuli – ia mengucapkannya tiga kali – kemudian ia berkata: “Aku mendengar rasulullah saw. bersabda: “Bani Israil bercerai berai menjadi 72 golongan, satu di surga, dan sesisanya di neraka, dan mereka pasti ditambah oleh umat ini satu, satu di surga dan sesisanya di neraka.

 Ulama berselisih mengenai muhkamat dan mutasyabihat berdasarkan beberapa pendapat, Jabir bin Abdulah bin Riab, dan itu tuntutan pendapat Sya’bi, Sufian Atstsauri dan yang lainnya: Muhkamat adalah ayat-ayat alquran yang takwilnya diketahui, makna dan tafsirnya difahami. Sedangkan mutasyabihat adalah yang tak ada cara bagi seorang pun untuk mengetahuinya, ia termasuh yang Allah khususkan mengetahuinya tanpa makhluknya. Sebagian mereka mengatakan: “Itu seperti waktu terjadi kiamat, keluar Yakjuj dan Makjuj, Dajal, Isa, dan seperti huruf satuan di awal surat.

Saya katakan: “Ini pendapat terbaik tentang mutasyabih. Dan kita telah mengemukakannya pada permulaan surat Albaqarah dari Rabi’ bin Khutsaim bahwa Allah swt. Menurunkan Alquran ini, lalu ia mengkhususkan darinya ilmu yang ia kehendaki.” Hadis.

Abu Usman mengatakan: “Muhkam adalah fatihatul kitab yang tidak sah salat kecuali dengannya.”

Muhamad bin Fadl mengatakan, “Surat Alikhlas; karena di dalamnya hanya ada tauhid saja. Dan dikatakan seluruh Alquran muhkam; berdasarkan firmanNya: “Kitab yang ayat-ayatnya Muhkam.” [Q.S Hud: 1], katanya: seluruhnya Mutasyabih; berdasarkan fimanNya: “Sebagai kitab yang mutasyabih.” [Q.S Azzumar: 23].

Saya katakan ini sedikitpun tidak termasuk makna ayat, karena firmanNya: “Kitab yang muhkam ayat-ayatnya,” yaitu dalam rangkaian dan susunan, dan bahwa ia benar dari allah. Sedangkan makna “Sebagai kitab yang mutasyabih” yaitu sebagiannya menyerupai sebagiannya lagi, dan sebagiannya membenarkan sebagiannya lagi. Yang dimaksud dengan “Ayat-ayat yang muhkamat” dan “Yang lain mutasyabihat” bukan makna ini, mutasyabih dalam ayat ini termasuk bab kemungkinan dan keseliruan, dari firmanNya: “Sesungguhnya sapi itu membingungkan bagi kami” [Albaqarah: 70], yaitu mebuat kami seliru, yaitu memuat banyak jenis sapi. Dan yang dimaksud dengan muhkam adalah yang mengimbangi ini, yaitu yant tiada keseliruan di dalamnya dan tiada kemungkinan kecuali satu bentuk.

Katanya: “Mutasyabih adlah yang memuat banyak bentuk, kemudian bila beberapa bentuk itu dikembalikan kepada satu bentuk dan membatalkan sesisanya maka yang mutasyabih itu menjadi muhkam. Sedangkan muhkam selamanya pokok yang kesanalah berbagai cabang dikembalikan, jadi mutasyabih adalah cabang.

Ibn Abas mengatakan: Almuhkamat adalah firmanNya dalam Surat Alan’am: “Katakanlah mari kubacakan tuhanmu haramkan kepadamu [151] hingga tiga ayat, dan firmanNya mengenai bani israil: “Tuhanmu telah menetapkan agar kamu jangan menyembah kecuali kepadanya dan harus berbuat baik kepada kedua orang tua. [Q.S Alisra: 23]. Ibn Athiah mengatakan: Ini menurutku contoh yang ia berikan mengenai almuhkamat.

Ibn abas juga mengatakan: Almuhkamat adalah: yang menghapusnya, halalnya, haramnya, aneka kefarduannya, yang diimani dan diamalkan. Sedangkan mutasyabih adalah: Yang dihapus, yang didahulukan, yang diakhirkan, berbagai amsal, berbagai sumpah, yang diimani tapi tidak diamalkan.

Ibn mas’ud dan yang lainnya mengatakan: “Muhkamat adalah yang menghapus, dan mutasyabihat adalah yang dihapus.” Itu dikatakan Qatadah, Arrabi’, dan addhahak.

Muhamad bin Ja’far bin Jubair mengatakan: “Almuhkamat adalah yang didalamnya ada argumen tuhan, pemeliharaan hamba, menolak pertentangan dan kebatilan, padanya tidak ada penyimpangan dan perubahan dari yang digunakan. Sedangkan almutasyabihat adalah: ia meliki perubahan, penyimpangan, dan takwil. Mengenainya Allah menguji hamba-hambaNya. Dikatakan Mujahid dan Ibn Ishak.

Ibn Athiah mengatakan: “Ini pendapat terbaik mengenai ayat ini.”

Annahas mengatakan: “Pendapat terbaik mengenai muhkamat dan mutasyabihat adalah: Bahwa muhkamat itu yang berdiri sendiri tidak butuh dikembalikan kepada yang lainnya, seumpama: “Baginya tidak bandingan satupun,” [Q.S Alikhlas: 4], “Dan sesungguhnya Dia maha pengampun bagi yang taubat,” [Q.S Thaha: 82]. Sedangkan mutasyabihat adalah semacam: “Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.” {Q.S Azzumar: 53] dikembalikan kepada firmanNya: “Sesungguhnya aku maha pengampun bagi yang taubat.” [Thaha: 82], dan pada firmanNya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik.” [Q.S Annisa: 48].

Saya katakan: “Yang dikatakan Annahas menjelaskan yang dipilih oleh Ibn Athiah, dan itu berlaku pada penggunaan bahasa, dan bahwa kata muhkam itu isim maf’ul dari kata ahkam, ihkam adalah itqan (kuat) dan tidak diragukan bahwa yang jelas maknanya tidak ada kesulitan dan kebimbangan mengenainya, ia seperti itu hanyalah karena kosa kata kata-katanya jelas dan susunannya disepakati, dan kapanpu salah satu dari dua hal tadi rusak munculah tasyabuh (keseliruan) dan kesulitan.” Allah lebih tahu.

Ibn Khuwaizmandad mengatakan: “Mutasyabih punya beberapa bentuk, yang berhubungan dengan hukum yang diperselisihkan ulam yakni salah satu ayat yang menghapus yang lainnya; seperti pendapat Ali, dan ibn Abas mengenai perempuan hamil yang ditinggal mati suaminya: “Ia beridah puncak dua ajal.” Sedangkan Umar, Zaid bin Tsabit, Ibn Mas’ud, dan yang lainnya mengatakan: “Melahirkan”. Mereka mengatakan surat annisa yang pendek (Aththalaq) menghapus “Empat bulan sepuluh hari” [Q.S Albaqarah: 234]. Sedangkan Ali dan Ibn Abas berpendapat tidak dihapus.

Dan seperti perselisihan wasiat bagi yang mewariskan apakah dihapus atau tidak.

Dan seperti dua ayat yang kontradiksi yang mana yang didahulukan jika tidak diketahui dihapus, dan tidak didapati syarat-syaratnya, seperti firmaNya: “Dan dihalalkan bagimu yang dibelakang (selain) itu.” [Q.S annisa: 24], ia menuntut pengumpulan antara kerabat-kerabat dari milkul yamin, sedangkan firmanNya: “Dan kamu mengumpulkan antara dua saudari kecuali yang telah lalu.” [Q.S annisa: 23] menolak itu darinya.

Begitu juga kontradiksinya berbagai khabar dari Nabi saw. dan kontradiksinya berbagai analogi, maka itu mutasyabih.

Ayat dibaca dengan dua qiraat, isim ada yang muhtamal (mungkin) atau mujmal yang perlu kepada penafsiran tidak termasuk mutasyabih; karena yang wajib darinya adalah memperkirakan yang dimuat oleh isim atau oleh seluruhnya. Dan dua qiraat seperti dua ayat wajib mengamalkan akibat keduanya secara serempak, seperti: وامسحوا برءوسكم وأرجلَكم [المائدة:6] dibaca dengan fathah dan kasrah, berdasarkan penjelasan yang akan datang dalam surat Almaidah. Insya Allah.

Bukhari meriwayatkan dari Said bin Jubair ia berkata: “Seseorang bertanya kepada Ibn Abas, “Aku mendapati beberapa hal yang bagiku kontradiksi,” Ia: “Apa itu?” ia: "فلا أنساب بينهم يومئذ ولا ينساءلون" [المومنون: 101] dan "وقال بعضهم على بعض يتساءلون" [الصافات: 27];  

 

 

Dari ayat 284 s.d. ayat 286.

لله ما فى السموات وما فى الارض ...الخ

Firman-nya: 
لله ما فى السموات والأرض maknanya telah banyak dikemukakan.

Firman-nya:

وان تبدوا ما فى أنفسكم او تخفون يحاسبكم به الله mengenai nya ada dua masalah:

1. Orang-orang berselisih mengenai makna firman-Nya:

وان تبدوا ما فى أنفسكم او تخفون يحاسبكم به الله

Berdasarkan Lima pendapat:

1.1 ayat itu dihapus, itu dikatakan Ibnu Abbas, Ibn Mas'ud, Aisyah, Abu Hurairah, Asysya'bi, 'Atha, Muhammad bin Sirin, Muhammad bin Ka'b, Musa bin Ubaidah, dan sekelompok  sekelompok sahabat dan tabiin,  dan bahwasannya penugasan ini tetap ada selama setahun sampai dengan Allah menurunkan jalan keluar melalui firmannya:
 La yukallifullahu nafsan illa wus'aha La yukallifullahu nafsan illa wus'aha.  itu adalah pendapat Ibnu Mas'ud,  Aisyah, Muhammad bin Sirin Muhammad bin dan yang lainnya.
 dalam Shahih Muslim dalam Shahih Muslim dari Ibnu Abbas ia mengatakan:




الله تعالى بقوله [ ان أول بيت وضع للناس للذي ببكة ] الأية .
قال تعالى : [ ولتكن منكم أمة يدعون ألى الخير . . الى قوله . . بما عصوا وكانوا يعتدون ] من أية (104) إلى نهاية أية (112)
المناسبة :
لما حذر تعالى من مكايد أهل الكتاب ، وأمر بالأعتصام بحبل الله والتمسك بشرعه القويم ، دعا المؤمنين إلى القيام بواجب الدعوة إلى الله ، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، وامر بالائتلاف وعدم الاختلاف ، ثم ذكر ما حل باليهود من الذل والصغار بسبب البغي والعدوان .
اللغة :
[ أمة ] طائفة وجماعة
[ البينات ] الأيات الواضحات
[ المعروف ] ما أمر به الشرع واستحسنه العقل السليم
[ المنكر ] ما نهى عنه الشرع واستقبحه العقل السليم
[ الأدبار ] جمع دبر وهو مؤخر كل شيء ، يقال : ولاه دبره أى هرب من وجهه
[ ثقفوا ] وجدوا وصودفوا
[ حبل من الله ] الحبل معروف والمراد به هنا : العهد ، وسمي حبلا لأنه سبب يحصل به الأمن وزوال الخوف
[ باءوا ] رجعوا
[ المسكنة ] الفقر .
التفسير :
[ ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ] أى ولتقم منكم طائفة للدعوة إلى الله
[ ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ] أى للامر بكل معروف والنهي عن كل منكر
[ واولئك هم المفلحون ] أي هم الفائزون
[ ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا من بعد ما جاءهم البينات ] أى لا تكونوا كاليهود والنصارى الذين تفرقوا في الدين ، واختلفوا فيه بسبب أتباع الهوى ، من بعد ما جاءتهم الأيات الواضحات
[ واولئك لهم عذاب عظيم ] أى لهم بسبب الأختلاف عذابب شديد يوم ألقيامة
[ يوم تبيض وجوه وتسود وجوه ] أى يوم القيامة تبيض وجوه المؤمنين بالأيمان والطاعة ، وتسود وجوه الكافرين بالكفر والمعاصي
[ فأما الذين اسودت وجوههم أكفرتم بعد إيمانكم ] هذا تفصيل لأحوال الفريقين بعد الإجمال ، والمعنى : أما أهل النار الذين أسودت وجوههم فيقال لهم على سبيل التوبيخ : أكفرتم بعد إيمانكم أى بعد ما وضحت لكم الأيات والدلائل
[ فذوقوا العذاب بما كنتم تكفرون ] أى ذوقوا العذاب الشديد بسبب كفركم
[ واما الذين أبيضت وجوههم ] أى وأما السعداء الأبرار الذين أبيضت وجوههم باعمالهم الصالحات
[ ففي رحمة الله هم فيها خالدون ] اى فهم في الجنة مخلدون ، لا يخرجون منها ابدا


[ تلك ايات الله نتلوها عليك بالحق ] اى هذه ايات الله نتلوها عليك يا محمد حال كونها متلبسة بالحق
[ وما الله يريد ظلما للعالمين ] اى وما كان الله ليظلم احدا ولكن الناس انفسهم يظلمون
[ ولله ما في السموات وما في الأرض ] اى الجميع ملك له وعبيد
[ وإلى الله ترجع الأمور ] اى هو الحاكم المتصرف في الدنيا والأخرة
[ كنتم خير امة اخرجت للناس ] اى انتم يا امة محمد خير الأمم ، لانكم انفع الناس للناس ، ولهذا قال [ اخرجت للناس ] اى اخرجت لأجلهم ومصلحتهم ، روى البخاري عن أبى هريرة [ كنتم خير امة اخرجت للناس ] قال : (خير الناس تأتون بهم في السلاسل في أعناقهم حتى يدخلوا في الإسلام )
[ تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ] وهذا بيان لوجه الخيرية كأنه قيل السبب في كونكم خير أمة ، هذه الخصال الحميدة ، روي عن عمر رضي الله عنه انه قال (من سره ان يكون من هذه الأمة فليؤد شرط الله فيها) . ثم قال تعالى
[ ولو آمن اهل الكتاب لكان خيرا لهم ] اي لو امنوا بما انزل على محمد وصدقوا بما جاء به ، لكان ذلك خيرا لهم في الدنيا والأخرة
[ منهم المؤمنون وأكثرهم الفاسقون ] أى منهم فئة قليلة مؤمنة كالنجاشي و(عبد الله بن سلام ) ، والكثرة الكثيرة فاسقة خارجة عن طاعة الله ،
[ لن يضروكم إلا أذى ] أى لن يضروكم إلا ضررا يسيرا بألسنتهم ، من سب وطعن
[ وإن يقاتلوكم يولوكم الأدبار ] اى ينهزمون من غير ان ينالوا منكم شيئا
[ ثم لا ينصرون ] اى ثم شأنهم الذي ابشركم به ، انهم مخذولون لا ينصرون ، والجملة استئنافية
[ ضربت عليهم الذلة اينما ثقفوا ] اي لزمهم الذل والهوان اينما وجدوا ، وأحاط بهم كما يحيط البيت المضروب بساكنه
[ إلا بحبل من الله وحبل من الناس ] اى إلا اذا اعتصموا بذمة الله وذمة احد من المسلمين ، قال ابن عباس : بعهد من الله وعهد من الناس
[ وباءوا بغضب من الله ] اى رجعوا مستوجبين للغضب الشديد من الله
[ وضربت عليهم المسكنة ] اى لزمتهم الفاقة والخشوع ، فهي محيطة بهم من جميع جوانبهم
[ ذلك بانهم كانوا يكفرون بايات الله ويقتلون الأنبياء بغير حق ] اى ذلك الذل والصغار ، والغضب والدمار ، بسبب جحودهم بايات الله ، وقتلهم الأنبياء ظلما وطغيانا
[ ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون ] اى بسبب تمردهم وعصيانهم اوامر الله تعالى .
البلاغة :
تضمنت الأيات الكريمة وجوها من البيان والبديع نوجزها فيما يلي :
1 - [ ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ] فيه من المحسنات البديعية ما يسمى بالمقابلة .
2 - [ واولئك هم المفلحون ] فيه قصر صفة على موصوف حيث قصر الفلاح عليهم ، كانه يقول : هم المفلحون لا غيرهم .
3 - [ تبيض وجوه وتسود وجوه ] بين كلمتي [ تبيض ] و[ تسود ] طباق .
4 - [ ففي رحمة الله ] مجاز مرسل اطلق الحال واريد المحل أى ففي الجنة لأنها مكان تنزل الرحمة .
5 - [ ضربت عليهم الذلة ] فيه استعارة حيث شبه الذل بالخباء المضروب على اصحابه ، فالذذ .محيط بهم من كل جانب ، فهي استعارة لطيفة بديعة.
6 - [ وباءو بغضب ] التنكير للتفخيم والتهويل .
فائدة :
قوله تعالى [ ثم لا ينصرون ] جملة مستأنفة ولهذا ثبتت فيها النون ، قال الزمخشري : " وعدل به عن حكم الجزاء الى حكم الإخبار ابتداء كأنه قيل : ثم اخبركم انهم مخذولون منتف عنهم النصر ، ولو جزم لكان نفى النصر مقيدا لقتالهم ، بينما النصر وعد مطلق
تنبيه :


الاختلاف الذي اشارت إليه الآية [ ولا تكونوا كالذين تفرقوا واختلفوا ] انما يراد به الاختلاف في (العقيدة) وفي (أصول الدين ) ، واما الاختلاف في (الفروع ) كما اختلف الأئمة المجتهدون ، فذلك من اليسر في الشريعة ، كما نبه على ذلك العلماء ، ولابن تيمية رحمه الله رسالة قيمة اسماها " رفع الملام عن الأئمة الأعلام " فارجع اليها فإنها رائعة ومفيدة .
قال الله تعالى : [ ليسوا سواء من اهل الكتاب امة. . الى . . إن الله بما يعملون محيط ] من اية (113) الى نهاية آية ( 120)
المناسبة :
لما وصف تعالى اهل الكتاب بالصفات الذميمة ، ذكر هنا انهم ليسوا بدرجة واحدة ، ففيهم المؤمن والكافر ، والبر والفاجر ، ثم ذكر تعالى عقاب الكافرين وأن أموالهم وأولادهم لن تنفعهم يوم القيامة شيئا ، واعقب ذلك بالنهي عن اتخاذ أعداء الدين أولياء ، ونبه إلى ما في ذلك من الضرر الجسيم في الدنيا والدين .
اللغة :
[ آناء ] اوقات وساعات مفردها " إنى " على وزن " معى "
[ يكفروه ] يجحدوه من الكفر بمعنى الجحود ، سمي منع الجزاء كفرا لأنه بمنزلة الجحد والستر
[ صر ] الصر : البرد الشديد ، قاله ابن عباس ، وأصله من الصرير الذي هو الصوت ، ويراد به الريح الشديدة الباردة
[ حرث ] زرع وأصله من حرث الأرض اذا شقها للزرع والبذر
[ بطانة ] بطانة الرجل : خاصته الذين يفضي إليهم باسراره ، شبه ببطانة الثوب لأنه يلي البدن
[ لا يألونكم ] اى لا يقصرون ، قال الزمخشري : يقال : الأ في الأمر يألو اذا قصر فيه
[ خبالا ] الخبال : الفساد والنقصان ، ومنه رجل مخبول اذا كان ناقص العقل
[ عنتم ] العنت : شدة الضرر والمشقة
[ الأنامل ] اطراف الأصابع .
سبب النزول :
لما اسلم (عبد الله بن سلام ) وأصحابه ، قال أحبار اليهود : ما آمن بمحمد إلا شرارنا ، ولو كانوا من خيارنا ما تركوا دين آبائهم ! ! وقالوا لهم : لقد كفرتم وخسرتم فأنزل الله [ ليسوا سواء من أهل الكتاب أمة قائمة ] الأية .
التفسير :
[ ليسوا سواء ] أى ليس أهل الكتاب مستوين فى المساوىء ، وهنا تم الكلام ، ثم ابتدأ تعالى بقوله
[ من أهل الكتاب أمة قائمه ] أى منهم طائفة مستقيمة على دين الله
[ يتلون آيات الله اناء الليل وهم يسجدون ] أى يتهجدون في الليل بتلاوة آيات الله حال الصلاة
[ يؤمنون بالله واليوم الأخر ] أي يؤمنون بالله وبلقائه على الوجه الصحيح
[ ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ] اى يدعون الى الخير وينهون عن الشر ولا يداهنون
[ ويسارعون في الخيرات ] اى يعملونها مبادرين غير متثاقلين
[ واولئك من الصالحين ] اى وهم في زمرة عباد الله الصالحين
[ وما يفعلوا من خير فلن يكفروه ] اى ما عملوا من عمل صالح فلن يضيع عند الله
[ والله عليم بالمتقين ] اى لا يخفى عليه عمل عامل ، ولا يضيع لديه اجر المتقين . . ثم اخبر تعالى عن مآل الكافرين فقال
[ ان الذين كفروا لن تغني عنهم اموالهم ولا أولادهم من الله شيئا ] أى لن تدفع عنهم أموالهم التي تهالكوا على اقتنائها ، ولا اولادهم الذين تفانوا في حبهم من عذاب الله شيئا
[ واولئك اصحاب النار هم فيها خالدون ] اى هم مخلدون في عذاب جهنم
[ مثل ما ينفقون في هذه الحياة الدنيا كمثل ريح فيها صر ] أى مثل ما ينفقونه في الدنيا بقصد الثناء وحسن الذكر ، كمثل ريح عاصفة فيها برد شديد
[ أصابت حرث قوم ظلموا أنفسهم فأهلكته ] أى أصابت تلك الريح المدمرة زرع قوم ، ظلموا أنفسهم بالمعاصى فأفسدته وأهلكته فلم ينتفعوا به ؟ فكذلك الكفار يمحق الله أعمالهم الصالحة ، كما يتلف الزرع بذنوب أصحابه
[ وما ظلمهم الله ولكن أنفسهم يظلمون ] أي وما ظلمهم الله بإهلاك حرثهم ، ولكنهم ظلموا أنفسهم بإرتكاب ما يستوجب العقاب ، ثم حذر تعالى من اتخاذ المنافقين بطانة يطلعونهم على أسرارهم فقال


[ يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا بطانة من دونكم ] أى لا تتخذوا المنافقين أصدقاء تودونهم وتطلعونهم على أسراركم ، وتجعلونهم أولياء من غير المؤمنين
[ لا يألونكم خبالا ] أى لا يقصرون لكم فى الفساد
[ ودوا ما عنتم ] أى تمنوا مشقتكم ، وما يوقعكم في الضرر الشديد
[ قد بدت البغضاء من أفواههم ] أى ظهرت أمارات العداوة لكم على ألسنتهم ، فهم لا يكتفون ببغضكم بقلوبهم ، حتى يصرحوا بذلك بأفواههم
[ وما تخفي صدرهم أكبر ] أى وما يبطنونه لكم من البغضاء أكثر مما يظهرونه
[ قد بينا لكم الآيات ] أى وضحنا لكم الآيات الدالة على وجوب الإخلاص في الدين ، وموالاة المؤمنين ومعاداة الكافرين
[ إن كنتم تعقلون ] أى إن كنتم عقلاء ، وهذا على سبيل الهز والتحريك للنفوس ، كقولك : إن كنت مؤمنا فلا تؤذ الناس ، وقال ابن جرير : المعنى إن كنتم تعقلون عن الله أمره ونهيه . . ثم بين سبحانه ما هم عليه من كراهية المؤمنين فقال
[ ها أنتم أولاء تحبونهم ولا يحبونكم ] أى ها أنتم يا معشر المؤمنين خاطئون في موالاتكم وصداقتكم لهم ، إذ تحبونهم ولا يحبونكم ، تريدون لهم النفع وتبذلون لهم المحبة ، وهم يريدون لكم الضر ويضمرون لكم العداوة
[ وتؤمنون بالكتاب كله ] أى وأنتم تؤمنون بالكتب المنزلة كلها ، وهم مع ذلك يبغضونكم ، فما بالكم تحبونهم وهم لا يؤمنون بشيء من كتابكم ؟ وفيه توبيخ شديد ، بأنهم فى باطلهم أصلب منكم قي حقكم
[ وإذا لقوكم قالوا آمنا ] أى وهذا من خبئهم إذ يظهرون أمامكم الإيمان نفاقا
[ وإذا خلوا عضوا عليكم الأنامل من الغيظ ] أى وإذا خلت مجالسهم منكم ، عضوا أطراف الأصابع من شدة الحنق والغضب لما يرون من ائتلافكم ، وهو كناية عن شدة الغيظ ، والتأسف لما يفوتهم من إذاية المؤمنين
[ قل موتوا بغيظكم ] هو دعاء عليهم أى قل يا محمد : أدام الله غيظكم إلى أن تموتوا
[ إن الله عليم بذات الصدور ] أى إن الله عالم بما تكنه سرائركم ، من البغضاء والحسد للمؤمنين . . ثم أخبر تعالى بما يترقبون نزوله من البلاء والمحنة بالمؤمنين فقال
[ إن تمسسكم حسنة تسؤهم ] أى إن أصابكم ما يسركم من رخاء وخصب ، ونصير وغنيمة ، ساءهم ذلك
[ وإن تصبكم سيئة يفرحوا بها ] أى وإن أصابكم ما يضركم من شدة وجدب وهزيمة ، سرهم ذلك ، فبين تعالى فرط عدأوتهم ، حيث يسوءهم ما نال المؤمنين من الخير ، ويفرحون بما يصيبهم من الشدة
[ وإن تصبروا وتتقوا لا يضركم كيدهم شيئا ] أي إن صبرتم على أذاهم واتقيتم الله في أقوالكم وأعمالكم ، لا يضركم مكرهم وكيدهم ، فشرط تعالى نفى ضررهم بالصبر والتقوى
[ إن الله بما يعملون محيط ] أى هو سبحانه عالم بما يدبرونه لكم من مكائد ، فيصرف عنكم شرهم ، ويعاقبهم على نواياهم الخبيثة .
البلاغة :
1 - [ من أهل الكتاب أمة ] جيء بالجملة أسمية للدلالة على الإستمرار كما جيء بعدها بصيغة المضارع [ يتلون آيات الله ] للدلالة على التجدد ومثله في [ يسجدون ] .
2 - [ وأولئك من الصالحين ] الإشارة بالبعيد عن القريب ، لبيان علو درجتهم وسمو منزلتهم في الفضل
3 - [ كمثل ريح فيها صر ] فيه (التشبيه التمثيلى) شبه ما كانوا ينفقونه من أجل المفاخر وكسب الثناء ، بالزرع الذي أصابته الريح العاصفه الباردة ، فدمرته وجعلته حطاما .
4 - [ لا تتخذوا بطانة ] شبه دخلاء الرجل وخواصه بالبطانة ، ففيه استعارة بديعة لطيفة ، تشبيها لهم ببطانة الثوب ، التي تكون من الداخل ، فكأنهم ملاصقون لأجسامهم .


5 - [ عضوا عليكم الأنامل ] قال أبو حيان : يوصف المغتاظ والنادم بعض الأنامل فيكون حقيقة ، ويحتمل أنه من مجاز التمثيل عبر بذلك عن شدة الغيظ والتأسف لما يفوتهم من إذاية المؤمنين أقول : عض الأنامل عادة العاجز النادم ، الذي لا يستطيع أن يفعل شيئا أمام ما يعرض له من متاعب ومصاعب ، فيعض على أصابعه حسرة وندما ، وهذا من مجاز الإمثال .
6 - في الآيات من المحسنات البديعية ما يسمى (بالمقابلة) وذلك في قوله [ إن تمسسكم حسنة تسؤهم وإن تصبكم سيئة يفرحوا بها ] حيث قابل الحسنة بالسيئة والمساءة بالفرح وهي مقابلة بديعة ، كما أن فيها جناس الإشتقاق في [ ظلمهم ] و[ يظلمون ] وفي [ الغيظ ] و[ غيظكم ] وفي [ تؤمنون ] و[ آمنا ] .
لطيفة :
عبر بالمس في قوله [ إن تمسسكم حسنة ] وبالإصابة في قوله [ وإن تصبكم سيئة ] وذلك للإشارة إلى أن الحسنة تسوء الإعداء ، وحتى ولو كانت بأيسر الأشياء ، ولو مسا خفيفا ، وأما السيئة فإذا تمكنت الإصابة بها إلى الحد الذى يرثي له الشامت فإنهم لا يرثون ، بل يفرحون ويسرون ، وهذا من أسرار بلاغة التنزيل ، فلفظ الإصابة يدل على تمكن الوقوع بخلاف المس .
قال الله تعالى : [ وإذا غدوت من أهلك نبوىء المؤمنين مقاعد للقتال . . إلى . . وأطيعوا الله والرسول لعلكم ترحمون ] من آية ( 121 ) إلى نهاية آية ( 132 )
المناسبة :
يبدأ الحديث عن الغزوات من هذه الآيات الكريمة ، وقد انتقل السياق من معركة الجدل والمناظرة ، إلى معركة الميدان والقتال ، والآيات تتحدث عن (غزوة أحد) بالإسهاب ، وقد جاء الحديث عن (غزوة بدر) في أثنائها اعتراضا ، ليذكرهم بنعمته تعالى عليهم لما نصرهم ببدر وهم أذلة قليلون في العدد والعدد ، وهذه الآية هي افتتاح القصة عن غزوة أحد ، وقد أنزل فيها ستون آية ، ومناسبة الآيات لما قبلها أنه تعالى لما حذر من اتخاذ بطانة السوء ، ذكر هنا أن السبب في هم الطائفتين من الإنصار بالفشل إنما كان بسبب تثبيط المنافقين لهم وعلى رأسهم (أبي ابن سلول ) رأس النفاق فالمناسبة إذا واضحة . روى الشيخان عن جابر قال " فينا نزلت [ إذ همت طائفتان منكم أن تفشلا والله وليهما ] قال نحن الطائفتان : بنو حاربة ، وبنو سلمة ، وما يسرنى أنها لم تنزل لقول الله تعالى [ والله وليهما ] .
اللغة :
[ غدوت ] خرجت غدوة وهي الساعات الأولى من الصبح
[ تفشلا ] الفشل : الجبن والضعف
[ تبوىء ] تنزل ، يقال : بوأته منزلا وبوأت له منزلا أى أنزلته فيه ، وأصل التبوىء اتخاذ المنزل .
[ أذلة ] أى قلة في العدد والسلاح
[ فورهم ] الفور : السرعة ، وأصله شدة الغليان من فارت القدر إذا غلت ، ثم استعمل اللفظ للسرعة تقول : من فوره أى من ساعته
[ مسومين ] بفتح الواو بمعنى معلمين على القتال ، وبكسرها بمعنى لهم علامة ، وكانت سيماهم يوم بدر عمائم بيضاء
[ طرفا ] طائفة وقطعة
[ يكبتهم ] الكبت : الهزيمة والإهلاك وقد يأتى بمعنى الغيظ والإذلال
[ خانبين ] الخيبة : عدم الظفر بالمطلوب .
سبب النزول :
ثبت فى صحيح مسلم أن النبي (ص) كسرت رباعيته يوم أحد وشج في رأسه ، فجعل يسلت الدم عنه ويقول : كيف يفلح قوم شجوا رأس نبيهم وكسروا رباعيته ، وهو يدعوهم إلى الله تعالى فأنزل الله [ ليس لك من الأمر شيء ] .
التفسير :
[ وإذ غدوت من أهلك ] أى اذكر يا محمد حين خرجت إلى أحد من عند أهلك
[ تبوىء المؤمنين مقاعد للقتال ] أى تنزل المؤمنين أماكنهم لقتال عدوهم
[ والله سميع عليم ] أى سميع لأقوالكم عليم بأحوالكم


[ إذ همت طائفتان منكم ان تفشلا ] أى حين كادت طائفتان من جيش المسلمين أن تجبنا وتضعفا ، وهمتا بالرجوع وهما " بنو سلمة " و " بنو حاربة " وذلك حين خرج رسول الله (ص) لأحد بألف من أصحابه ، فلما قاربوا عسكر الكفرة وكانوا ثلاثة آلاف انخذل " عبد الله بن أبى " بثلث الجيش وقال : علام نقتل أنفسنا وأولادنا ؟ فهم الحيان من الأنصار بالرجوع ، فعصمهم الله فمضوا مع رسول الله (ص) وذلك قوله تعالى
[ والله وليهما ] أى ناصرهما ومتولي أمرهما
[ وعلى الله فليتوكل المؤمنون ] أى في جميع أحوالهم وأمورهم . . ثم ذكرهم تعالى بالنصر يوم بدر لتقوى قلوبهم ، ويتسلوا عما أصابهم من الهزيمة يوم أحد فقال
[ ولقد نصركم الله ببدر وأنتم أذلة ] أى نصركم يوم بدر مع قلة العدد والسلاح ، لتعلموا أن النصر من عند الله لا بكثرة العدد والعدد
[ فأتقوا الله لعلكم تشكرون ] أى خافوا ربكم واشكروه على ما من به عليكم من النصر
[ إذ تقول للمؤمنين ألن يكفيكم أن يمدكم ربكم بثلاثة آلاف من الملائكة منزلين ] أى إذ تقول يا محمد لأصحابك : أما يكفيكم أن يعينكم الله بإمداده لكم بثلاثة آلاف من الملائكة منزلين لنصرتكم
[ بلى إن تصبروا وتتقوا ] أى بلى يمدكم بالملائكة إن صبرتم في المعركة ، واتقيتم الله وأطعتم أمره
[ ويأتوكم من فورهم هذا ] أى يأتيكم المشركون من ساعتهم هذه
[ يمددكم ربكم بخمسة آلاف من الملائكة مسومين ] أى يزدكم الله مددا من الملائكة ، معلمين على السلاح ومدربين على القتال ((وقيل معنى مسومين : أي معلمين بعلامة ، قال عروة بن الزبير : كانت الملائكة على خيل بلق عليهم عمائم بيض قد أرسلوها بين أكتافهم )).
[ وما جعله الله إلا بشرى لكم ] أى وما جعل الله ذلك الإمداد بالملائكة ، إلا بشارة لكم أيها المؤمنون لتزدادوا ثباتا
[ ولتطمئن قلوبكم به ] أى ولتسكن قلوبكم فلا تخافوا من كثرة عدوكم وقلة عددكم
[ وما النصر إلا من عند الله ] أى فلا تتوهموا أن النصر بكثرة العدد والعدد ، ما النصر في الحقيقة إلا بعون الله وحده ، لا من الملائكة ولا من غيرهم
[ العزيز الحكيم ] أى الغالب الذي لا يغلب في أمره (الحكيم ) الذي يفعل ما تقتضيه حكمته الباهرة
[ ليقطع طرفا من الذين كفروا ] أى ذلك التدبير الإلهي ، ليهلك طائفة منهم بالقتل والإسر ، ويهدم ركنا من أركان الشرك
[ أو يكبتهم ] أى يغيظهم ويخزيهم بالهزيمة
[ فينقلبوا خائبين ] أى يرجعوا غير ظافرين بمبتغاهم ، وقد فعل تعالى ذلك بهم في بدر ، حيث قتل المسلمون من صناديدهم سبعين وأسروا سبعين ، وأعز الله المؤمنين وأذل الشرك والمشركين
[ ليس لك من الأمر شيء ] هذه الآية وردت اعتراضا وهي في قصة أحد ، وذلك لما كسرت رباعيته (ص) وشج وجهه الشريف قال : كيف يفلح قوم خضبوا وجه نبيهم بالدم ؟ ! فنزلت [ ليس لك من الأمر شيء ] أي ليس لك يا محمد من أمر تدبير العباد شيء ، وإنما أمرهم إلى الله
[ أو يتوب عليهم أو يعذبهم فإنهم ظالمون ] أى فالله مالك أمرهم ، فإما أن يهلكهم ، أو يهزمهم ، أو يتوب عليهم إن أسلموا ، أو يعذبهم إن أصروا على الكفر ، فإنهم ظالمون يستحقون العذاب
[ ولله ما في السموات وما في الأرض يغفر لمن يشاء ويعذب من يشاء والله غفور رحيم ] أى له جل وعلا ملك السموات والأرض يعذب من يشاء ، ويغفر لمن يشاء وهو الغفور الرحيم
[ يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا الربا أضعافا مضاعفة ] أى لا تتعاملوا بالربا بطريق الجشع ، حتى تأخذوه أضعافا كثيرة ، قال ابن كثير : كانوا في الجاهلية إذا حل أجل الدين ، يقول الدائن : إما أن تقضي وإما أن تربي ! فإن قضاه والإ زاده في المدة وزاده في القدر ، وهكذا كل عام ، فربما يضاعف القليل حتى يصير كثيرا مضاعفا ،
[ واتقوا الله ] أى اتقوا عذابه بترك ما نهى عنه


[ لعلكم تفلحون ] أى لتكونوا من الفائزين
[ واتقوا النار التي أعدت للكافرين ] أى احذروا نار جهنم التي هيئت للكافرين
[ وأطيعوا الله والرسول لعلكم ترحمون ] أى أطيعوا الله ورسوله لتكونوا من الإبرار الذين تنالهم رحمة الله جل وعلا.
البلاغة :
1 - [ إذ تقول ] صيغة المضارع لحكآية الحال الماضية لاستحضار صورتها في الذهن
2 - [ إن يمدكم ربكم ] التعرض لعنوان الربوبية مع إضافته للمخاطبين لإظهار كمال العنآية بهم .
3- [ يغفر ويعذب ] بينهما طباق .
4 - [ أضعافا مضاعفة ] جناس الإشتقاق .
5 - [ لا تأكلوا الربا ] سمي الإخذ أكلا لأنه يئول إليه فهو (مجاز مرسل ) .
تنبيه :
ذكر الإضعاف المضاعفة في الآية ليس للقيد ولا للشرط ، وإنما هو لبيان الحالة التي كان الناس عليها في الجاهلية ، وللتشنيع عليهم بأن في هذه المعاملة ظلما صارخا ، وعدوانا مبينا ، حيث كانوا يأخذون الربا أضعافا مضاعفة ، قال ابو حيان : " نهوا عن الحالة الشنعاء التى يوقعون الربا عليها فربما استغرق بالنزر اليسير مال المدين ، وأشار بقوله [ مضاعفة ] إلى أنهم كانوا يكررون التضعيف عاما بعد عام ، والربا محرم بجميع أنواعه ، فهذه الحال ليس قيدا في النهي " .